Pantaskah Aku Marah ?

Aku kesel….Dia tambah kesel. Aku sebel…dia sangat sebel…Aku ingin marah…Dia sudah marah dan bisa marah…Aku dongkol…Dia juga bisa sangat dongkol dan bisa meledak amarahnya.

Aku sudah beberapa kali menerima amarah darinya dan sepertinya aku akan dicap ‘tidak baik’ dalam berhubungan dengan dia. Kadang masalahnya memang berasal dari suatu permasalahan yang harus dipermasalahkan, tapi apalah aku ini aku hanya bawahan. Aku tidak kuasa. Aku punya ide, aku punya banyak rencana….Ah, sekarang aku akan diam saja. Aku akan melihat dan tidak banyak bicara dan keluh kesah. Aku akan melihat saja dari kejauhan.

Tapi…jauh dari lubuk hatiku, aku tidak bisa menjadi diriku sendiri! Aku merasa aku bukan diriku. Aku ingin bebas berkreasi, tapi terbentur kasta. Kaum Sudra tidak bisa berubah menjadi Brahma atau Kesatria. Aku tidak bisa meraih bintang untuk menerangi bumi. Aku tidak bisa bebas mengemukakan pendapat. Rasa hanya ala kadar mungkin segera kurasakan. Aku tidak mau seperti itu ! Aku ingin berhubungan dengan siapa saja dalam hubungan dan ikatan yang baik.

Aku tak menyalahi dia bersikap seperti itu kepadaku. Mungkin aku pantas mendapatkan perlakuan seperti itu, tapi egoku berkata, ” Aku sudah mengikuti jalurnya. Aku sudah berusaha sehingga keputusanku untuk meneelpon dia pun bukan keputusan yang bijaksana !” Aku tahu, “Sopan nggak kalau aku menelpon ke dia dalam keadaan seperti ini ?” Aku sudah meminta persetujuan dari teman karena dengan cara itulah mungkin salah satu jalan untuk bisa mewujudkan impian siswaku.

Tak melihat sikon, ah mungkin bodohnya aku jika tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Kalau aku katakan seperti itu, aku akan tetap disalahkan. Aku sedih….Dia yang kuanggap seperti orang tua dan bisa mengayomi tidak bisa seperti dulu. Jauh…sangat jauh berbeda…Karena sesuatu hal dalam diriku sehingga dia marah ?

Aku mungkin egois, tapi sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin semuanya berjalan baik. Aku ingin berhubungan baik dengan siapa saja. Jalur-jalur yang kulakukan untuk menyukseskan program kegiatanku tidak berjalan dengan baik. Orang yang pertama dalam jalur itu tidak bisa melaksanakan amanahnya.

Rasanya ingin sekali pergi meninggalkan semuanya, berlari jauh sehingga tak ada lagi yang bisa kulihat, kudengar, dan kukenang dari dia. Keakraban yang kujalin dengannya semata-mata aku merasa dia seperti orang tuaku, bisa diajak bicara dan bertukar pikiran, tapi kenyataannya…dia semakin jauh dan aku akan menjauh.

Aku sebenarnya sedih jika aku bersikap seperti itu. Sungguh, itu bukan bagian dari diriku. Orang tua yang pantas kujadikan panutan kita mulai lenyap dalam limbungnya jiwa yang mulai goncang.

Aku hanya berharap, “Allah tidak meninggalkanku dikala semuanya beranjak pergi.”

Aku menginginkan, “Allah tak pernah marah kepadaku saat semua orang marah padaku”

“Aku takut Allah marah padaku karena sifat burukku. Naudzubillah…. “

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Syair Hati. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s