Impian Sederhana si Pemulung Kecil

Impianku….Aku tak punya mimpi yang tinggi. Impianku sangat mudah dicapai bagi orang lain, tapi bagiku impianku itu sangat tidak mungkin aku gapai. Aku tidak meminta lebih . Standar impianku belum cukup menyaingi impian-impian teman-teman sepermainanku. Andai semua orang bisa mewujudkan impianku seperti yang aku impi-impikan, mungkin tidak bagiku. Aku pesimis impianku akan tercapai, tapi aku ingat perkataan rosulullah saw, ” Allah itu berdasarkan persangkaan umat-Nya.”

Aku sadar perkataan rosul itu, tapi rasanya sangat sulit bagiku bahkan aku tidak yakin bisa mencapai impian sederhanaku. Apalah aku ini ? Aku tidak cantik, aku pun tidak terlalu baik, dan yang jelas aku tidak kaya.Setiap hari aku bergelut dengan tumpukan sampah. Bau nasi basi, bau busuk sayuran bercapur bau anyir darah bekas isi perut ikan. Muak aku mencium bau-bau itu, apalagi melihat gundukan sampah yang kian meninggi di sekitar rumah kardusku. Lalat-lalat hijau berterbangan di atas tumpukan sampah. Rasanya tidak sudi berlama-lama disana. Mereka menyingkir masuk ke rumahku. Mereka hinggap ditudung saji. Ada yang hinggap di kain bekas yang dijadikan hordeng jendela rumah kardus kami. Tak sanggup aku membayangkan penyakit yang bertumpuk di tubuh ini meskipun sampai sekarang penyakit itu belum terlihat di sekitarku.

Aku sangat senang sekali jika malam tiba. Aku dan Mamakku bisa beristirahat di antara sempitnya rumah kami. Udara yang kami hirup tidak senyaman udara pedesaan tempat kami tinggal dulu. Keduanya sangat jauh berbeda. Hidungku kadang protes dengan penciuman yang tidak mengenakkan itu, tai mau apalgi karena semua itu harus aku jalani bersama Mamakku. Bukannya aku tidak bersyukur tinggal disana, tapi aku ingin bisa hidup lebih baik. Kata Mamakku, setiap Rabu pagi dan hamir 2 hari sekali karyawan-karyawan dari restoran terkenal di Jakarta ini akan kesini untuk meletakkan buah, sayuran, dan daging yang sudah tidak bisa digunakan oleh mereka. Pada saat itu kami bisa merasakan buah apel yang sedikit busuk, buah jeruk yang sudah tak berasa, sayur-sayuran yang sudah layu, dan daging bekas para pelanggannya. Kesemuanya itu kami olah lagi, yang busuk kami buang sedang daging-daging sisa itu kami beri penyedap sebanyak-banyaknya sampai baunya tidak tercium lagi oleh hidung kami.

 

Aku dan teman-teman sebayaku sangat senang saat karyawan restoran itu datang. Kami akan saling berebutan di anatara tumpukan sampah. Aku tak kan membiarkan buah, sayuran itu bertambah busuk disana. Aku tak habis pikir mengapa orang bisa melakukan hal seperti itu padahal kan <” Mubazir itu perbuatan syaithan ?” Orang yang berduit banyak yang tak segan-segan membuang makanan yang masih bagus, yang akhirnya hanya akan menjadi tumpukan sampah. Bukankah lebih baik jika sayur, buah, atau daging itu dipisahkan . Yang layu dan masih baik untuk dimakan diberikan kepada orang yang membutuhkan, seperti para pengemis, anak jalanan, fakir miskin, dan orang-orang seperti kami, pemulung sampah ? Katanyan “Setiap muslim itu bersaudara, tapi mengapa sampai saat ini sangat sedikit orang yang peduli dengan nasib orang kecil seperti kami ?”

 

Aku meringis meliihat sekarung nasi yang tidak dimakan padahal beberapa daerah dan di rumah kardus, kami selalu menyantap bekatul atau seseali kami membeli nasi yang dijemur lalu kami tanak kembali menjadi nasi yang sudah tidak ada nnilai gizinya.

 

Aku marah keapada penguasa, pejabat, pengusaha yang duduk di atas kursi empuk, berleha-leha lalu menyuruh pegawainya, ” Buang saja ke tempat sampah ! Kita bisa beli lagi nanti” Aku kesal sama ibu-ibu yang membiarkan anak-anaknya membuang makanan seenaknya, ” Kalau Adek nggak mau, mama ganti yang lain dan yang ini kita buang saja ya.” Alu jadi ingat pesan Mamakku “, Kalau kita suka membuang nasi/ tidak menghabiskan nasi, nasi itu akan nangis dan kita tidak bisa makan nasi lagi.” Betul sekali kata Mamakku karena dalam seminggu kami bisa makan nasi ‘betulan’, bukan nasi sampah.

 

Tubuhku akan kecil dan kurus seperti ini saat akan dewasa, mungkin saja hal itu terjadi karena gizi dari makanan yang aku makan sudah hilang. Aku hanya makan sampah. Aku dan teman-teman tidak akan menangis dengan keadaan kami. Kami akan menari di atas tumpukkan sampah, berlari-lari sambil berebutan sampah atau kami akan beradu tinju, yang akhirnya berakhir dengan duduk di atas tumpukan sampah sambil menghirup aroma sampah yang sudah tidak tercium lagi oleh hidung-hidung kami.

 

Aku dan teman-teman ingin hidup kami berubah menjadi lebih baik. Aku sudah mau membuang hajatku di antara tumpukan sampah dan mandi dengan air seadanya, apalagi jika malam dingin disertai hujan deras. Aku ingin berontak dan kata kecaman pada Allah pun kadang kulontarkan, ” Allah, mengapa Engkau tidak kasihi kami, katanya Engkau Maha Pengasih,” tapi buru-buru aku diingatkan Mamak, “Allah itu tidak menurunkan cobaan lantaran marah atau tidak suka pada umat-Nya. Cobaan adalah salah satu wujud rasa sayang . Dia menjadikan kita seperti ini karena Dia yakin kita bisa menjalaninya. Buktinya kita tidak pernah sakit karena, ‘Seiring kesulitan itu ada kemudahan’. Allah tidak akan membiarkan umat-Nya senhsara karena Dia berjanji akan mengubah keadaan umat-Nya jika umat itu mau mengubahnya.”

 

Mamak pernah mendengar Nabi kita Muhammad s.a.w. pernah berkata, ” Rugilah orang yang jika dalam 2 hari ini hidupnya sama saja.” Mamak tak bisa memberikan apa yang bisa orang tua berikan kepada anak-anaknya. Mamak tak bisa memberikan mobil-mobilan, uang yang banyak, atau mainan yang kamu sukai karena Mamak tidak mempu memberikanya. Mamak berdoa kepada Allah semoga hidup kita berubah. Mamak ingin kamu bisa bersekolah dan lebih baik dari sekarang. Cukuplah perjuangan Mamak membesarkan kamu sendiri disini. Mamak ingin kamu berhasil mengapai impianmu. Insya Allah ada jalan jika kamu mau berusaha.”

 

Tak lama Mamak berpesan seperti itu padaku, Mamak meninggalkanku sendiri di dunia ini. Mamak tiba-tiba meninggal setelah sholat Subuh. Aku sedih. Aku merasa tak ada yang mampu menyanggaku seperti dulu, tak ada lagi yang selalu menasihatiku seperti waktu Mamak masih di sampingku. Aku hampir berputus asa, tapi wasiat Mamak harus kujalani. Aku harus berubah.

 

Kepergian Mamak mengantarkan kepergianku dari rumah kardus. Aku pergi mengelana mengikuti arah kaki yang terus mengayuh tanpa arah yang pasti. Jika malam aku tidur di emperan toko, beralaska kardus bekas dan di siang harinya aku berjalan lagi. Akhirnya aku bertemu dengan seorang kakak mahasiswa dan dia mengajakku tinggal dengannya. Aku diajari membaca, menulis, dan berhitung. Perkembangan belajarku sangat lamban karena sebelumnya aku belum pernah belajar. Alhamdulillah aku bisa ! Aku diajak Kakak itu ke tempat sol sepatu, kenalannya. Aku diajarkan mengesol sepatu. Untungnya aku cepat paham dan bisa melakukan pekerjaan itu. Mulai saat itu aku menjadi tukang sol sepatu. Sedikit lagi aku bisa mencapai impianku, makan ayam goreng beneran !

 

Terinspirasi oleh cerita makanan sampah yang marak terjadi di ibukota Indonesia beberapa bulan yang lalu. Semoga semua makhluk tak ada lagi yang sengsara lahir-batin…Aamiin ya Robbal ‘alamin….

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s