Bun, rasanya seperti hari akhir aja…

Mendung mengelayuti hari kemarin, namun hujan belum kunjung datang ketika waktu telah menunjukkan separuh hari telah dilewati. Anak-anak bermain seperti biasanya. Tawa riang merekalah mengobat bosan di setiap rutinitas sekolah. Cerita singkat di tiap istirahat membuat hati bertambah riang.  Keadaan itu dikejutkan dengan suara guntur yang mulai terdengar dan kilatan petir yang terlihat beberapa detik ketika anak-anak mulai masuk belajar. Mereka berlari ketakutan. Mereka menghampiriku. Mereka berebut untuk menceritakan apa yang mereka rasakan ketika  mendengar guntur dan melihat petir. Mereka semua bersuara. Ada suara yang bernada ketakutan, kecemasan, dan rasa harap dan doa.

 

Diam-diam dan pasti aku berbisik kepada seorang anak, “Semoga ini bukan hari akhir sehingga kita bisa pulang dan bertemu dengan orang tua kita.” Anak tersebut berteriak dan mengatakan ” Oi, mungkin saja ini hari akhir !” Nada suaranya terdengar cemas dan aku menangkap akan ada yang dilakukan anak itu setelah aku membisikan kalimat itu pada telinga anak tersebut.

 

Hampir seluruh anak beristighfar ketika mendengar suara guntur dan merasakan kilatan petir. Mereka berdoa dan aku melihat mulut-mulut kecil mereka berkomat-kamit melantunkan ayat kursi yang dipandu oleh rekan kerjaku. Aku tertawa melihat mereka.

 

Sekali lagi aku membisikan seorang anak laki-laki, ” Coba lihat, pohon kelapa itu bergoyang. Nggak pernah pohon itu bergoyang seperti itu, bukan ?” Aku melihat ekspresi yang menakutkan dari anak tersebut dan aku berhasil ! Aku berhasil membuat dia ketakutan sehingga banyak anak yang mau mengaji biasanya kalau disuruh mengaji susah sekali. Ada anak yang belum dipanggil namanya telah siap dan berdiri di depan mejaku dan teman kerjaku. Aku merasa senang. Aku dan temanku hanya tertawa melihat tingkah mereka. Mereka anak-anak yang polos dan pengalamanlah yang akan mengajarkan mereka untuk berbuat lebih baik. Pengalaman kemarin bisa membuat mereka menjadilebih mawas diri dan merasakan bahwa apa pun bisa terjadi. Kemarin membuka mata mereka bahwa doa merupakan penenang yang ampuh jika diri dilanda kesulitan atau kesusahan.

 

Aku merasa kemarin memberikan hikmah yang berarti bagi anak. Anak diajarkan berdoa dan mengharapkan pertolongan Allah karena hanya Allah sajalah yang bisa membantu semuanya. Anak belajar menerima semua ketentuan Allah walaupun ketentuan atau takdir Allah itu terasa menakutkan dan menyakitkan.

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s