Untuk Saudara-Saudaraku

Rasanya baru kemarin kita bersama. Kita berbagi cerita dan berjalan-jalan bersama. Sekarang kalian sudah besar dan jauh dariku.

 

Ingatkah ketika kita kecil, kita selalu bermain di atas pohon belimbing, lalu tidur di atap tumah karena ketakutan dilihat papa. Ingatkah juga adik-adikku, ketika aku dan kalian menetapkan bahwa buah belimbing itu milikku dan milikmu. Aku merindukan itu. Ingatkah ketika kita bertengkar, kau merasa tidak mau kalah dan meminta kembali kelerengmu kepadaku. Engkau menangis karena aku memenangkan banyak kelereng darimu.

 

Ingatkah juga ketika gulingmu aku ambil ketika tidur lalu kau mengambil kembali guling itu dariku saat aku tertidur lelap. Ketika aku memukulmu karena kesal bahwa kau tidak mau ikut denganku, ingatkah itu, Adik-adikku ? Aku merindukan semuanya, tapi kenangan itu hanya sebatas kenangan dan kilas-kilas kenangan itulah hal yang sangat berarti bagiku.

 

Masih ingatkah kalian, Adik-adikku, batang seri yang ada di belakang rumah kita dulu, yang daunnya menjulur ke atap rumah. Aku dan kalian selalu mengambil seri-seri itu walaupun seri itu belum masak. Aku dan kalian tak kan pernah mau mengalah untuk mendapatkan seri -seri yang manis dan harum baunya. Aku akan lebih dulu mengambilnya dan karena egoku kadang aku tidak memberikannya kepada kalian. Batang seri itu tidak ada lagi sekarang, sudah lebih dari 20 tahun aku tidak menemukannya lagi di rumah kita yang dulu. Batang itu ditebang papa ketika setiap hari genteng rumah pecah karena kita selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan seri. Kita pernah merasa kesal tentang perbuatan papa waktu itu. Ternyata, sekarang aku baru tahu apa hikmah semua itu meskipun aku masih merindukan batang seri ada lagi di halaman rumah kita.

 

Adikku…. Saat dulu kita tidak mau pergi kalau engkau dan aku tidak pergi kalau papa mengajak salah satu dari kita pergi. Aku akan menangis karena aku tidak mau kalian tidak ikut. Aku akan memberontak dan aku akan mengatakan ‘tidak’ kepada papa kalau aku tidak akan ikut jika kalian tidak ikut. Aku merindukannya juga.

 

Dulu, ketika kecil, permainan-permainan anak-anak selalu kita lakukan bersama. Aku ingat patok lele yang selalu kita mainkan, juga karet gelang yang membuat seluruh pergelangan tanganku juga tanganmu penuh dengan karet gelang. Semuanya itu membawa kenangan tersendiri bagiku. Saudaraku, sungguh amarah dan kekesalan yang terluap saat aku emosi di masa kecil dulu bukan karena aku benci, tapi aku tidak tahu harus bagaimana untuk melampiaskannya. Untuk itulah aku meminta maaf atas semua itu.

 

Sekarang, kalian sudah jauh dariku. Untuk bertemu pun kita sangat sulit. Bermain seperti dulu dan bercerita seperti dulu sangat jarang kita lakukan. Kalian sudah punya kehidupan sendiri-sendiri, tapi bawalah kenangan-kenangan kita dulu sebagai pembalut luka jika kalian berduka. Mungkin kenangan-kenangan itu mampu mengobati luka yang ada.

 

Aku mencintai kalian karena Allah….Semoga Allah memberikan kelurusan dalam segala hal di kehidupan kalian. Aamiin….

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Untuk Saudara-Saudaraku

  1. shellyzzaf berkata:

    wow its so coo but i dont understand ok
    I’ts so loong verb

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s