Casandra

Novel nonfiksi yang ditulis oleh Torey kali ini memberikan semangat baru bagiku dan mengingatkanku dengan seorang siswaku di kelas III dulu, namanya Agung. Dia mirip seperti Casandra hanya saja faktor pencetusnya yang berbeda.

Casandra….

Tokoh dalam cerita ini sebenarnya ada 3, Casandra, Gerda (sudah tua), dan seorang anak laki-laki (Drake Sloane) dari keluarga kaya di Amerika. Casandra, anak yang periang, namun kontrol emosinya sangat buruk sehingga jika ada sesuatu yang mengancam dirinya, Casandra akan memberontak dan bisa membuat orang disekelilingnya menjadi ketakutan karena sifatnya yang destruktif. Torey hadir dalam kehidupannya sehingga lambat laun Casandra mulai dekat dan bercerita dengan Torey tentang keadaannya. Pelecehan seksual yang dia dapatkan semasa dia kecil membawa dampak tersendiri bagi dirinya.

 

Berbeda dengan Gerda. Gerda adalah kasus Torey yang pertama, yang dia hadapi dengan klien yang sudah tua. Gerda mengalami mutisme sejak suaminya meninggal. Anak-anaknya jauh, dia tinggal sendiri di rumahnya. Gerda merasa diabaikan, anak-anaknya semuanya tinggal di tempat yang jauh sehingga dalam setahun banyak yang tidak mengunjunginya.

 

Anak orang kaya yang ditanggulangi oleh Torey kali ini sebenarnya adalah anak yang periang, hanya saja kakeknya merasa bahwa mutismenya si anak merupakan gangguan psikologis. Kakeknya meminta si anak bicara, padadasarnya si anak berbicara karena bagian alat bicaranya ada yang tidak normal sehingga menghambat pengeluaran suara dari rongga mulutnya. Kakeknya melarang si ibu untuk menggunakan bahasa isyarat padahal dengan bahasa itulah si anak bisa mengembangkan potensinya. Si ayah akhirnya pergi dari rumah karena melihat kondisi ayahnya yang tidak bisa memberikan toleransi kepada kedua orang tua anak untuk mendidik anaknya yang mengalami keabnormalan organ bicara, yang sejak dulu telah dia ketahui. Ibunya yang selalu menuruti kehendak kakeknya merasa tertekan sehingga dia mengalami anoreksia, tubuhnya kurus dan terlihat tak berdaya. Ibunya menggunakan isyarat kepada si anak diam-diam saat kakeknya sedang di luar. Setelah beberapa kali pemeriksaan psikologi, organ bicara, maka Torey memutuskan bahwa ke-mutisme-an si anak bukan karena faktor psikologis, tapi disebabkan oleh organ bicaranya yang mengalami suatu kelemahan. Mulai saat itulah, Torey melatih si anak dengan bahasa isyarat….

 

 

Catatan :

Pengalaman masih kecil dan ketertekanan batin pasti membekas di jiwa anak ketika anak telah mencapai usia remaja atau dewasa. Dampak yang ditimbulkan kadang sangat tidak diinginkan oleh lingkungan di sekitarnya. Memberikan pengalaman yang menyenangkan pada masa anak-anak akan lebih baik sehingga di kemudian hari orang tua bisa menuai suatu kebaikan pula bagi dirinya.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Casandra

  1. mei maniezz berkata:

    aduu.. yuk cobo sekalian ceritoken cerito lengkapnya…klo perlu sekalian ayuk salinken novelnyo di blok ayuk..hua..ha..ha..
    Cknyo ceritonyo seru n bagus.????

    Balesan ayuk ni….

    Maunyo cak itu, Mei, tapi waktunyo dak ado…. Maklum nih novel minjem dari uwong. Mei lagi ngenet yo, dimano ?

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s