Renungan ‘Kepala Sekolahku Seorang Pemulung’

Beberapa minggu yang lalu aku menonton film dokumeter yang judulnya “Kepala Sekolahku Seorang Pemulung”, ternyata karya itu mendapat penghargaan dari…aku lupa. Film itu menceritakan tentang seorang kepala sekolah MI swasta di daerah perkotaan di Pulau Jawa yang rela memulung untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari. Aku melihat raut wajahnya yang sudah tua, yang menyisakan gurat kerja keras yang telah dia lakukan dalam kesehariannya. Aku mendengar suara batuknya, rasanya sangat miris. Saat jabatan kepala sekolah yang merupakan kedudukan tertinggi dalam institusi pendidikan, masih ada sambilan seperti yang beliau lakukan.

Tidak ada rasa malu bagi beliau. Beliau hanya berpikir, ” Anakku mulai besar dan aku harus membuat mereka lebih dariku.” Di saat kepala sekolah yang lain bermewah-mewah, beliau bersikap sesederhana mungkin bahwa sangat jauh dari kata sederhana. Ketika banyak kepala sekolah yang menggunakan uang sekolah untuk kepentingan pribadi, beliau menanggalkan kepentingan pribadinya untuk orang lain, keluarganya.

Aku terdiam dan merenung. Dalam renunganku aku memikirkan, ” Beliau kerjanya dari pagi hingga sore, sekitar jam 14.00 WIB, setelah jam itu dia memulung di dekat rumahnya, bagaimana rasa capeknya ?”
Aku berpikir, ” Adakah di kota tempat tinggalku yang kepala sekolahnya seperti itu ? Adakah penghargaan pemerintah atas apa yang telah beliau lakukan ? Adakah orang yang rela meninggalkan dan menanggalkan jabatannya seperti beliau ? Adakah beliau merasa harga dirinya jatuh ketika melakukan pekerjaan itu ? Serentetan renungan itu mengingatkanku tentang makna bersyukur. Aku bersyukur atas kehidupanku sekarang walau terkadang ada rasa tidak puas muncul dari dalam diriku. Aku bersyukur dilahirkan dari keluarga yang ‘cukup’, bukan berlebih sehingga aku tidak menjadi orang yang ponggah dalam menjalani hidup. Aku bersyukur diberi penghasilan yang bisa atau setidaknya mampu mencukupi kebutuhanku. Aku bersyukur tinggal di lingkungan yang nyaman. Aku bersyukur pada semua kekuasaan Allah kepadaku….

Begitu miris memandangan yang aku lihat di film itu. Kepala sekolah itu duduk di antara sampah yang menumpuk sambil sekali-kali terbatuk-batuk karena karbondioksida mulai masuk ke rongga pernapasannya. Beliau tidak meninggalkan tugasnya seperti kepala sekolah yang lain. Beliau sangat amanah pada tugas yang diembannya walaupun hasil yang dia terima lebih besar beliau dapat dari pekerjaan sampingannya, memulung.

Tak ada kata malu melakukan pekerjaan memulung, kebutuhan dasar harus dipenuhi sehingga orang tersebut bisa mencapai kebutuhan lainnya. Dari kebutuhan dasar itulah dia akan mencapai kepuasan, jika berhasil dia lakoni dengan baik. Jika kebutuhan dasar itu tidak dapat dipenuhi, akan banyak masalah yang akan dia hadapi. Kebutuhan akan penghargaan yang berada di tingkat ketiga pada piramida Maslow akan beliau dapatkan setelah film dokumenter itu dinonton oleh banyak orang karena masih banyak orang yang menghargai orang lain dari hal yang paling kotor dan dianggap hina.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

2 Balasan ke Renungan ‘Kepala Sekolahku Seorang Pemulung’

  1. mei maniezz berkata:

    yuk..dimanao jingok filmnyo??mei dk tau yuk.. menarik n menyedihkan..tp bisa diambil pelajran yg berharga bangetz..minjem yuk klo ado cd-ny…

    Suka

  2. dick nofriansyah berkata:

    dick nofriansyah menulis …

    aQ dlu pernah mendengar cerita diatas.Artikel itu mencerminkan betapa sulitnya kehidupan para pejuang tanpa tanda jasa untuk dapat hidup dengan kehidupan yang layak………sungguh tragis….semoga kedepannya indonesia bisa menghargai jasa-jasa mereka.Dan Indonesia bisa jadi lebih baik………..

    Meliana merespon :

    Dic, cerita itu nyata dan terjadi sekarang di kota besar sehingga itu yang membuat saya miris…. Banyak kisah yang serupa yang belum atau tidak di blow-up media….Ya pasti, melihat semua kejadian dan perjalanan orang di bawah kita, rasanya…syukur takkan pernah pupus hilang dari hati kita, iya kan ?

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s