Kompulsif

Ketika rintik hujan mulai membasahi jaket, aku bergegas untuk melanjuytkan perjalanan. Sudah terlambat beberapa menit aku dari jam masuk kantor. Rasanya bersalah sekali aku dengan semua orang. Mata-mata orang tertuju kepadaku. Cucian baju yang menumpuk di kamar mandi aku biarkan begitu saja. Aku tahu walaupun aku mencoba untuk mengejar waktu, dia takkan kembali. Aku ingat seorang teman pernah berkata, ” Janganlah suka menunda-nunda pekerjaan !” Aku tidak menunda, tapi aku ingin pekerjaan yang aku lakukan adalah hasilnya sempurna.

Aku kadang tidak memikirkan omongan orang yang ada di sekitarku yang mengatakan tentang sikap jelekku. Bukan tidak dipikirkan, aku hanya tidak terlalu memikirkan perkataan orang lain. Seringkali aku menyadari bahwa sifatku itu tidak baik, tapi terulang lagi aku lakukan sampai aku sendiri tidak bisa lepas dari lingkaran ke perfect-an yang kuinginkan.

Lampu kamar belum aku matikan karena mataku masih saja terbuka dan ingin segera menyelesaikan satu buku yang membuatku tergugah. Buku yang mencekam, tapi aku ingin menyelesaikan kasus yang ada dalam buku itu. Jendela yang sudah kututup sejam yang lalu kulirik kembali. Aku berdiri di depan jendela itu. Aku amati kuncinya. Aku tarik handle kuncinya dan berharap aku bisa yakin dengan jendela yang sedang kuperiksa. Aku kembali lagi ke tempat tidur, tapi aku ragu dengan keamanan jendela kamarku. Aku takut nanti tiba-tiba ada orang yang mengintip melalui jendela itu. Berulang kali aku memeriksa jendela kamarku sampai akhirnya aku mulai meyakinkan diriku bahwa aku lelah dan mungkin jendela sudah aman.

” Les, tahu nggak sih, aku semalaman tidak bisa tidur. Masalahnya aku hanya memikirkan jendela kamarku akan diintip orang,” ceritaku kepada seorang teman karibku.

“Kamu sih terlalu kompulsif, nggak baik lho punya sifat seperti itu. Yang rugi kan kamu sendiri. Sekarang kamu ngantuk kan ? “Tanya Lesli kepadaku.

Aku ingat kejadian yang melatariku berbuat seperti itu bermula dari keadaan nervous yang aku miliki. Kadang nervous itu membuat aku kewalahan sendiri untuk menghadapinya. Kejadian beberapa kali rumahku diintip oleh maling membuat aku selalu cemas ketika malam datang. Keadaan malam membuat aku ketakutan dan cemas dengan anggapan mungkin maling itu akan datang mengintip lagi. Pernah suatu hari. ketika aku masih SD, aku mengintip dari ventilasi di jendela kamarku hanya untuk melihat anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di halaman pada malam hari. Aku tak sengaja merasakan ada jari yang seolah-olah menyentuh tanganku. Kasarnya seperti tangan manusia. Aku tidak yakin bahwa yang menyentuhku itu adalah anak kecil karena jarak antara ventilasai dengan lantai itu sangat tinggi. Setelah aku tanyakan kepada anak-anak tentang siapa yang mengintip di ventilasi kamarku, mereka tidak ada yang mengatakan, ” Iya, aku !”

Sejak itulah kecemasanku dan perbuatan berulang terjadi padaku. Aku sangat cemas bahkan bisa dikatakan bahwa kecemasan yang aku lakukan adalah berlebihan. Sifat perfect itulah yang mencukung kecemasanku itu sehingga sampai saat ini aku masih terus menerus mengunci pintu sampai aku lelah sendiri dengan tingkah lakuku itu. Kalau aku mencuci tangan, aku lakukan tidak hanya sekali. Aku bisa mencuci tangan sampai berulang-ulang kali sehingga aku bosan dengan air dan sabun.

Kecemasan yang berlebihan pun terjadi ketika aku mulai atau mau berteman dengan orang di sekelilingku. Aku cemas dengan semua sifatku yang aku punyai. Aku cemas dengan pertemanan yang aku buat. Aku cemas mengahadapi situasi yang tidak aku inginkan. Aku cemas dengan apa yang aku lakukan dengan pertemananku. Ah, cemas membuatku pusing. Kadang karena hal itulah aku berpikir berulang-ulang kali untuk mulai berteman dengan orang lain.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kompulsif

  1. mei maniezz berkata:

    HMM… obsesif kompulsif yuk..cukup tergambar dengan jelas. menarik… tapi kayaknya kasus si “aku” uda cukup parah..kok gantung yuk…emang lum selesai critonyo or…

    Y’Meli saids :
    Iya, memang dibuat ngantung….Mei ada ide ? Mei, Yuk Yuli udah ngelahirin lho….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s