Anakku Ternyata Sudah Besar !

Ada cerita baru dari kelasku….

Sudah lama aku tidak menceritakan tentang peristiwa di kelasku. Ceritanya begini….

Baru 4 hari ini aku menerapkan bersalaman dengan siswa laki-laki di kelasku dengan cara menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Mungkin baru aku saja yang melakukannya. Aku juga merasa tak enak karena di dalam hatiku masih belum bisa mengontrol sepenuhnya untuk tidak mengusap kepala si anak. Biasanya ketika istirahat, ada beberapa siswa laki-laki (kelas V) yang sering aku ajak main. Aku tidak segan-segan untuk bermain dengannya, tapi sejak diberlakukan salaman seperti itu, aku merasa ada yang hilang. Aku menginginkan kembali hal itu, tapi aku harus konsekuen dengan apa yang telah aku tetapkan. Patner kerjaku belum melakukannya karena ada ketakutan di dalam dirinya yang membuatnya menunda perbuatan yang aku lakukan. Aku melakukannya karena beberapa hal. Aku melakukannya karena ada beberapa siswa laki-laki yang sudah baligh dan aku ingin memperkenalkan salaman sebagai tanda dimulainya perpindahan masa, dari anak-anak  menuju remaja.

 

Aku bercerita kepada anak tentang kesedihan karena aku tidak bisa lagi memegang mereka. Setelah aku beri nasihat tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan jika sudah baligh, beberapa anak menghampiriku.

“ Bun, aku belum baligh. Bunda, aku belum keluar air mani,” kata Ami. Aku melihat ke arahnya dengan tersenyum.

“ Bunda, aku balighnya mungkin SMP,” kata Fazal Aku kembali tersenyum.

Aku langsung menerapkan apa yang aku ucapkan ketika pulang sekolah. Lana sudah melakukannya sebelum aku menasihati seluruh siswa 4 hari yang lalu.

 

Sebelumnya, saat outbound SD di SMP IT Al Furqon Lana dan Hisyam berlari-lari ke arahku dan sedikit malu-malu mereka berdua menghampiriku dan bertanya,

 “ Bunda, air mani itu putih dan kental ya ?” Dia bertanya.

“ Kenapa Lana bertanya seperti itu ? Apa Lana sudah….” Kalimatku menggantung.

“ Iya, Bun, Lana sudah baligh,’ kata Hisyam.

“ Berarti Lana mulai hari ini sudah baligh. Salaman dengan Bundanya harus seperti ini,” sambil kucontohkan cara bersalaman dengan menangkupkan telapak tangan di dada.

Aku juga menyarankan anak laki-laki untuk tidak suka main dengan anak wanita dan wanita tidak main dan bersenggolan dengan anak laki-laki. Ami yang selalu lucu dan membuatku tertawa kadang memancingku untuk memarahinya. Dia menakut-nakutiku dengan cara berpura-pura menyenggol aku, tapi tidak dilakukannya. Fazal masih ngotot dengan, ‘Aku  belum baligh, jadi aku masih boleh nyentuh Bunda’, tapi kalau itu terjadi aku akan melihat ke arahnya dengan sorot mata sedikit marah.

 

Ketika pulang sekolah pada awal penerapan salamanku, ada beberapa anak yang bingung bahkan Elgha mengulurkan tangannya seolah-oleh dia tidak mau tidak melakukan apa yang telah aku terapkan.

“ Gini, Elgha,’ kataku sambil mencontohkan salaman.

“ Memangnya kenapa ?” Tanyanya.

“ Karena Bunda ingin melatih kalian. Mungkin kelas VI nanti kalian sudah baligh.”

Ternyata salamanku itu berhasil dan anak-anak sudah terbiasa melakukannya padaku.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s