Kelas 205

Ini karyanya Tracy Kidder, kisah nyata tentang seorang guru yang bernama Chris. Chris yang sering tidak disukai oleh siswa-siswanya sehingga dia disebut sebagai guru jahat dan dibenci oleh siswanya. Semua siswa duduk melipatkan kedua tangannya saat Chris datang plus dengan wajah tertunduk. Chris yang mempunyai siswa yang bernama Clarence, yang membuat hari-harinya sibuk memikirkan apa yang harus dia perbuat untuk meningkatkan nilai akademisnya. Clarence yang membuat onar di kelas, yang tidak memperhatikan saat belajar, dan masih banyak lagi karakter siswa yang ditampilkan dalam karyanya.

 

Chris dengan berbagai keunikan siswanya. Semuanya tertuang dalam karya nonfiksinya Kidder. Dia membuat kisah Chris menjadi sebuah pelajaran bagi seorang guru. Chris membuat kita berpikir dan merenungi apa yang akan kita lakukan ketika menghadapi seorang anak dengan sifat dan kepribadian yang berbeda-beda. Bagusnya bukunya Tracy ini menampilkan beberapa tips yang bisa dilakukan guru dalam mengajar di kelas. Bagaimana menghadapi siswa yang selalu buat keonaran, yang tidak mau mengikuti aturan, yang suka membantunya dan tak pernah bosan menawarkan bantuan kepadanya, yang periang, dan lain-lain.

 

Sayangnya, Tracy Kidder belum bisa menggantikan karya Torey di dalam hatiku. Pengalaman Chris yang dia tulis belum bisa menggugahku sebaik yang Torey lakukan padaku, mungkin juga pada beberapa orang yang lain.  Kalau aku membaca karya Torey, ada kalanya aku aku menangis, ada kalanya tertawa, atau aku sekedar tersenyum-senyum, dan rela meninggalkan tontonan acara televisi. Tracy Kidder belum bisa melakukan itu padaku !

 

Catatan :

Pertanyaanku sekarang, apakah ‘rasa’ buku yang aku senangi adalah berlebihan ? Banyak buku yang orang lain anggap bagus, tapi berbeda dengan anggapan kita. Mungkin karya Tracy bisa dianggap bagus oleh orang lain. Atau karena faktor Tracy adalah seorang laki-laki yang menceritakan pengalaman seorang guru wanita dalam sebuah tulisan sehingga dia sulit untuk memunculkan perasaan wanita yang diceritakannya ? Aku kadang berpikir, terlalu banyak tokoh pendukung (siswa) yang ditampilkan oleh Tracy dalam pengalaman Chris sehingga loncatan demi loncatan membuat ceritanya menjadi sedikit bingung. Kalau di karyanya Torey, pengalaman Torey lebih dikhususkan ke satu individu sehingga kita (pembaca) pun seolah-olah menjadi Torey dan kita pun secara tidak langsung ikut menjadi Torey.

 

Bilakah Chris langsung yang menuliskan cerita dan pengalamannya mengajar, mungkinkah Chris bisa mengalahkan kedudukan Torey dijajaran penulis novel nonfiksi di hatiku ?

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kelas 205

  1. xio ping berkata:

    ya…ya…
    lebih enak jadi kutu buku
    ketimbang jadi kutu busuk

    buat terus resensi bukunya ya…yuni
    I love it

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s