Membuat Anak Menangis

 Hari ini aku membuat satu kejutan besar. Aku marah pada anak, Emir namanya. Saat seluruh anggota kelas diajak ‘games imagination’ , dia malah membuat orang tidak konsentrasi. Semua siswa sudah setuju dengan kesepakatan yang aku tetapkan, yaitu yang membuat orang lain tidak bisa konsentrasi dan ribut maka dia boleh tidak ikut bermain dan silahkan mengerjakan soal di luar kelas. Aku taatikesepakatan itu, begitu pun dengan anak-anak.

 

Hayalan pertama telah kurancang dengan sempurna ketiks tiba-tiba rombongan Emir, Iqbal, dan teman akhwat yang lain baru masuk kelas. Imajinasi yang pertama hancur. Aku lanjutkan dengan imajinasi yang kedua. Aku mencoba mengajak anak untuk memasuk hutan dengan judul, ‘Bertamasya ke Hutan’. Anak-anak yang lain tentu senang karena pada games yang pertama mereka sudah bisa merasakan seolah-olah mereka sedang berlibur ke sebuah gunung, tapi buyar karena rombongan Emir.

 

Games aku lanjutkan kembali kali ini dengan berimajinasi ke hutan. Kali ini Emir melakukan kesalahan lagi. Dia mengajak temannya berbicara sehingga yang lain merasa terganggu. Akhirnya kesepakatan pun terjadi dan dilakukan. Dia harus keluar dari kelas.

 

Games yang ketiga, aku mengajak mereka untuk bertamsya ke langit. Aku menyuruhnya membayangkan apa yang dia sukai, tapi tidak dia lakukan. Dia bahkan ke kelas sebelah dan mengajak ngobrol temannya. Setelah hayalan sudah tuntas dan semua mata telah terbuka, setiap anak berhak dan wajib menceritakan apa yang dia imajinasikan dalam pikirannya sehingga hasilnya subhanallah, keren….

 

Aku keluar kelas dan aku coba untuk berbicara dengan Emir dari hati ke hati. Aku berkewajiban untuk mengubah apa yang kurang baik dari dirinya, yaitu suka mengajak temannya berbicara.  Aku tanya maunya dia apa, “Emir tahu nggak kalau mama Emir suka nangis kalau ke sini ? ” Aku lihat air matanya mulai menetes. Aku mencoba menyentuh hatinya. Aku tanyakan, ” Buat apa harta, kekayaan, kekuasaan, jabatan yang tinggi dan banyak. Semuanya bisa habis, Nak. Uang bisa berkurang. Rumah yang besar bisa roboh, kekayaan bisa habis. Nggak ada artinya, kecuali ilmu. Dengan ilmu kita bisa mendapatkan apa yang ingin kita capai. Bunda nggak butuh nilai Emir 10 kalau akhlaknya buruk. Bagi Bunda, cukuplah nilai Emir 6 dan berakhlak baik.” Dia diam mendengarkanku.

 

“Emir tahu nggak, mungkin papa Emir sakit karena terlalu banyak pikiran. Mikirin keluarga, anak, usaha, dan banyak lagi. Bisa nggak Emir membantu sedikit papanya setidaknya memperbaiki perilaku. Mama Emir yang kalau ketemu Bunda selalu mengeluh pusing mikirin Emir. Belum lagi mama Emir yang ngerawat adik-adik, keluarga, ngurusin rumah, dan lainnya, apa nggak sedih melihat mama. Apa Emir nggak mau membantu mamanya ?” Aku terus bertanya dan bertanya. Aku ingin membuka pikirannya.

 

Aku mempunyai rencana. Rencananya dadakan. Memang sih aku bukan Bunda kelasnya, tapi aku berkewajiban untuk mengubah akhlaknya meskipun hanya Allah saja yang tahu kapan akhlaknya berubah. ” Sekarang Bunda ingin Emir mencatat apa amal baik dan amal buruk yang telah Emir lakukan. Catat di kertas. Setiap harinya harus melaksanakan minimal 5 amal baik dan 2 amal buruk. Setiap hari silahkan lapor ke Bunda. Tugas Emir akan selesai jika semua amal kebaikan itu terus dilaksanakan dan tidak ada lagi amal keburukan. JUJURLAH PADA DIRI SENDIRI. Bunda tak ingin memaksa Emir, kalau mau lakukan. Jika tidak mau Bunda tidak memaksa. Air matanya pun sudah menderas. Aku katakan lagi, ” Emir, berhentilah menangis. Bunda tahu itu tangisan bohongan karena mungkin dengan tangisan Emir bisa mendapat keringanan.” Aku katakan hal itu kepadanya karena dia mengeluh, ” Ai, alangke banyaknyo, Bun !”

 

Dia masih menangis dan akhirnya aku tinggalkan dia di teras. Aku masuk ke kelas dan aku bersiap-siap pulang. Dia menyusulku. Dia mengatakan akan melakukannya, tapi dengan terpaksa. Dia mengeluh dengan apa yang aku tetapkan. Aku katakan lagi, ” Kalau Emir mau berubah, Bunda akan bantu. Jika Emir tidak mau berubah, Bunda lepas tangan. Tidak ada paksaan untuk Emir melakukan apa yang menurut Bunda baik untuk Emir. Nanti Bunda beritahu mama jika Emir sudah bisa melaksanakan kebaikan maka Bunda usulkan ke mama untuk memberi reward ke Emir. “

 

Aku turun ke bawah. Aku membiarkannya sendiri. Aku tidak tahu apakah kertas coretan yang aku buat dibawanya pulang atau tidak. Kertas itu masih tergeletak di atas mejaku ketika aku meninggalkan kelas dan dia masih disana dalam keadaan, menangis.

 

Aku mengetik disini setelah sholat Ashar, dia masuk ke ruang komputer dan berkata, ” Bunda mulai hari ini kan buatnya ?” Di dalam hati aku bersyukur, semoga dia kerjakan dengan baik.

 

 

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s