Hujan

Malam terasa dingin ditambah dengan hujan yang mulai menetes di atap-atap rumah dan terdengar tik…tik…tik… Aku bergindik kedinginan karena rasa takut karena ku tidak bisa menghadiri acara yang mesti aku hadiri, mengajar malam. Ah, rasanya ingin sekali aku memutuskan, ” Ya, aku tidak akan hadir di jika aku tidak diamanahi tugas ini,” pikirku. Jangankan untuk merhela-hela dan menarik nafas sejenak di kelelahan hari, aku masih melaksanakan kerja lemburku. “Oh, hari, bisakah bertambah jam-mu…,” gerutuku. Andai saja hari itu bukan 24 jam, tapi 36 jam, mungkin begitu banyak tugas yang bisa aku laksanakan. 

Tubuhku masih bersama dengan guyuran air hujan ketika lamunanku yang melayang dalam alir-alir benakku. Aku dikagetkan oleh bunyi klakson dari sebuah mobil yang menyipratkan air kuning ke wajahku. Aku ingin marah, tapi apa hakku dan apa juga kesalahan yang mereka perbuat. Bukankah aku hanya pengendara motor yang hanya bisa menghindar, yang sisip sedikit aku tergelincir.

 

Masih jauh jarak ke sekolahku. Sesekali pikiranku menerawang ke tujuan yang ingin aku capai 1 tahun ini. Jika ingat apa yang aku inginkan, ya…mungkin hanya ingin dan belum bisa aku wujudkan. Selama perjalananku, setiap pengendara dengan lincahnya menyalip di antara dua mobil dan aku pun disalipnya. Tak pelak lagi aku gas motorku sehingga sesekali aku nyaris terjatuh karena. Ngerem dan ngerem aku lakukan. Aku memperlambat laju motor tap hal tersebut membuatku semakin disalip dan seluruh bajuku kotor.

 

Alhamdulillah selesai juga penderitaanku kali ini. Wuih, diguyur hujan seperti bencana saja. Dangkal sekali rasanya memikirkan hal itu. Picik sekali apa yang aku pikirkan padahal yang akan aku lakukan adalah suatu pekerjaan yang mulia. Aku tergerak untuk menyingkirkan pikiran negatifku dan mengubahnya menjadi sebuah yang positif. ” Aku harus siap jika aku ingin mendapatkan catatan ibadah hari ini ! Singkirkan semua pikiran negatifmu, Non ! Ayo, semua orang melaju pesat untuk mendapatkan amal, kau juga harus seperti itu, Non ! Kamu bilang ingin bermanfaat bagi orang lain ! Bergegaslha, Non!” Tekadku dalam hati.

 

“Tinggalkan kesenanganmu sejenak. Kangenkah kamu dengan wajah ceria mereka? Rindukah kamu dengan curhatan mereka ? Kangenkah pula kau dengan senyum ceria mereka dan tawa mereka ketika mereka menceritakan kegembiraan mereka kepadamu ? Mungkin kau akan merindukan mereka semua disaat-saat kamu sendiri. Disaat-saat itulah lamunanmu akan menerawang dan mengajakmu untuk bernostalgia dengan memanggil rekaman-rekaman yang ada di barisan memorimu !”

 

“Aku harus memberikan yang terbaik hari ini !” Tekadku.

.

 

 

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Hujan

  1. xio ping berkata:

    Ketika kewajiban datang
    Tiada hak untuk berkelit
    Ketika hak datang
    Jangan sesekali tuk tidak diambil

    Waktu bagaikan anak panah yang lepas
    Sekali lepas tak kan kembali
    Bagai amal yang menyertai
    Tak mungkin lagi terulangi

    Wah oe buakan buat puisi la…
    ini cuma pantun-pantunan
    Bukan pantun benelan la…

    Suka

  2. melianaaryuni berkata:

    Siapa ya yang nulis ? Sepertinya aku kenal dengan cara ngejawab atau komennya ?

    Oke deh, aku setuju dengan komennya, tapi aku boleh ngomong kan ? Salah satu hak orang adalah bebas mengungkapkan apa yang dia rasa tepat, betul ? Bukankah lebih baik memberikan sesuatu tugas atau kewajiban kepada orang yang lebih paham sehingga tidak membingungkan orang yang bersangkutan dan ….

    Biarkan panah itu melesat
    Ketika dia melesat…Dia akan tahu sasarannya
    Bukan berkelit…
    Atau menghindar, tapi hanya…
    Tahu diri

    Bukannya tidak mau diambil,
    meskipun berbuah amal
    Amal akan berbuah jika disertai keikhlasan, betul ?
    Ikhlas….jawabannya
    Ikhlaskah jika timbul gerutu?
    Ikhlaskah jika tidak sepenuh hati melaksanakan kewajiban?
    Apakah disebut ikhlas dengan sebuah keterpaksaan?
    Benar, ikhlas bisa dipupuk, tapi….
    Ah, sudahlah yang berlalu, berlalulah sudah
    Ah, sudahlah, hanya bales komen aja….
    Ah, sudahlah, aku hanya manusia biasa !
    Senang berkenalan dengan Xio Ping….

    Suka

  3. xio ping berkata:

    cek ilee…
    cak tahu nian…
    sok tahu sok kenal…

    jangan-jangan gurunya samo
    maksudnyo…
    satu perguruan…

    ya sudah bae…
    kagek…tahu jugo…
    dem ye…salam kenal

    Suka

  4. melianaaryuni berkata:

    Merespon Xio Ping :

    Ce…ce…
    Mungkin ye, gurune samo
    Pake bahaso Palembang be. Pokokke aku seneng dapat masukan.
    Yang jelas, Xio Ping….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s