Perkelahian antara R dan Y

Aku pernah cerita nggak tentang R siswa di kelasku yang mempunyai sifat tempramen. Kemarin adalah kejadian yang terjadi untuk kesekian kalinya ketika aku mengajar di kelasku itu. Aku tahu sifatnya. Aku bahkan mengharapkan R akan berubah sifatnya ketika beberapa kejadian dia lalui, tapi dalam kenyataannya…lagi dan lagi, dia belum mampu mengontrol emosi negatifnya menjadi emosi positif.

 

Kejadiannya sebenarnya hanya masalah biasa, masalah anak-anak. Saat pulang, ada anak yang melempar kertas ke arahnya. Kemudian dia menyuruh anak lain untuk mengambil kertas yang dilempar itu. Karena tidak ada, anak yang diminta mengambil kertas itu (Y) mengatakan, ” Dak katek” karena pada saat dia melihat ke bawah kertas itu sudah tidak ada. R marah dan berjanji akan melakukan sesuatu untuk Y ketika pulang sekolah. Kejadiannya ketika pelajaran KTK. Aku pada saat itu berada di kelas lain dan partnerku izin pulang lebih dulu. Ketika aku masuk ke kelas aku tidak tahu kejadiannya, ternyata ketika anak-anak lain salam ada yang loncat-loncat tanpa berkata apa-apa. Mereka hendak mengatakan bahwa Y dan R berkelahi tapi mereka takut akan diancam oleh R. Setelah aku tahu bahwa Rdan Y berkelahi, aku keluar dan aku pun dihadang oleh tubuh gendut Iqbal. Mereka semua takut dan mencoba menghalangiku. Aku gunakan seluruh kekuatanku untuk melerai mereka dan alhamdulilliah aku berhasil.

 

Aku suruh masuk Yudha dan menjauh dari R sedangkan R berdiri di depan kelas. Wajahnya masih merah padam, matanya masih terlihat ganas. Dia tidak mau ngomomg. Aku tanyakan kejadiannya dengan Y. Sambil menangis, Y menceritakan kejadiannya. Lensa kacamata Y terlepas. Dia sangat kesal. Namanya anak-anak, Y menuturkan ketidaksukannya pada si A.

 

Hari ini kupanggil R. Aku bawa dia di depan kelas. Aku tanyakan kejadiannya. Ternyata, kejadian yang dituturkan oleh Y dan R berbeda. Akhirnya aku ajak Y dan mereka duduk berhadapan. Aku mendengar penuturan dari keduanya. Hanya salah paham. Itu saja. Aku tanya,” R, dendam nggak dengan Y ?” Aku tanya juga Y, ” Y, dendam nggak dengan R? ” “Tahu nggak cerita Habil dan Qabil, anak nabi Adam yang saling membunuh karena perkara sepele ? Padahal ada haditsnya, apa bunyinya (keduanya menyebutkan bunyi hadits tersebut). Mau memakan bangkai saudaranya sendiri ?” Tak ada jawaban dari mulut mereka, hanya anggukan kepala saja.

 

“Pada saat perang Badar, Rosulullah mengatakan perang yang paling besar adalah perang melawan hawa nafsu….” Ketika nafsu sudah dikedepankan, maka syaithanlah nahkodanya. Syaithon berasal dari api dan hanya bisa dipadamkan dengan air, maka ketika kita sedang marah, artinya syaithan itu mulai masuk ke aliran darah. Syaithan akan masuk ke anggota tubuh, jika dia ke mata maka matanya akan melotot dan terlihat sanggar. Jika dia masuk mengikuti aliran darah dari lengan ke ujung tangan, maka akan terbentuk kepalan tangan yang ditujukan ke lawan. Ketika dimasuk ke kaki, maka dia akan menendang musuhnya tanpa perasaan. Ketika masuk mengikuti aliran wajah, maka wajahnya akan memerah. Ketika masuk ke mulut, maka kata-kata yang diucapkan adalah kata-kata yang kasar dan menyakitkan hati.”

 

“R marah sama Bunda. Y juga kesel kan dengan Bunda. Nggak ada maksud Bunda untuk mengusir R ke kelas lain karena hal itu bukan perkara mudah. Mau Bunda nggak negur ketika R dan Y melakukan kesalahan? Kesalahan yang Bunda tegur pun bukan kesalahan biasa. Bunda takut karena kesalahan itu, maka akan banyak bencana yang ditimbulkannya. Bunda ngasih tahu ke mamanya hanya untuk menjalin komunikasi dengan mamanya dan mama R dan Y harus tahu masalahnya sehingga tidak terjadi kesalahpahaman antara kedua pihak….ya mama R dan Y. Ada masalah anak yang tidak harus diselesaikan dengan orang tua, tapi ada juga sebaliknya. Dengan bantuan dari orang tua, maka permasalahan barulah clear….”

 

” Tidak ada salahnya untuk memulai meminta maaf kepada orang lain meskipun dia tidak bersalah. Rosulullah mengajarkan bahwa orang yang meminta maaf lebih mulia dibandingkan dengan orang yang meminta maaf duluan. Sekarang siapa yang akan mendapatkan pahala lebih, maka dialah yang akan memulai meminta maaf,” aku mengakhiri nasihatku. Akhirnya keduanya saling menghulurkan tangannya.

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s