Deo dan Temannya

anak1.jpgHujan masih menguyur sekolahku ketika bel sekolah telah berbunyi.  Seperti biasa, nak-anak masih berkerumun di mejaku. Mereka bercerita tentang ketidaksukaan mereka sama anak laki-laki yang bernama Deo. Mereka menganggap bahwa Deo adalah anak yang paling menyeblkan. Menyebalkan ? Kenapa ?

Oke, nama-nama siswiku itu adalah Icha, Tami, Utari, Citra, Salsa, Huria, dan anak-anak lainnya. Mereka menyebut Deo dengan sebutan ‘manja’, ‘anak mama’, dan sebutan-sebutan lain yang memang pantas diberikan untuknya karena pada kenyataannya Deo memang sama seperti apa yang dikatakan oleh siswaku.

Deo, anak laki-laki yang pandai di kelasku. Daya tanggapnya terhadap materi sangat bagus bila dia konsentrasi. Karena temannya, Deo suka ikut-ikutan untuk bermain di kelas. Hasilnya, sudah pasti. Dia ikut bermain !

Andaikata disebutkan deskripsi Deo, mungkin kan terbayang dibenak pembaca wajahnya bulat lonjong, pipinya chabi, mulutnya kecil (kalau dilihat aku ingin tertawa sendiri, mulutnya agak mirip dengan mulut burung atau anak ayam kecil : )), dia masih terlihat kekanak-kanakan, dia masih suka ngambek. Kalau Deo marah, lihat saja wajahnya terutama mulut mungilnya, lucu. Mulutnya akan maju beberapa senti dan pasti aku tertawa. Mau marah ? Ah, tidak bisa….

Deo tidak punya adik, makanya dia suka gangguin teman -temannya di kelas. Sasarannya adalah siswiku. Mungkin bukan hal yang biasa jika terdengar jeritan,” Bunda, Deo!” dari siswiku. Setiap hari ada saja yang dia lakukan kepada siswiku. Mungkin sekedar menyenggol, menjatuhkan buku, meletakkan buku siswi ke tempat siswi yang lainnya, atau sekedar mencibir. Tak ada yang aneh jika setiap hari mendengar namanya disebut. Salah satu siswi yang suka diganggu oleh Deo adalah Icha. Kalau melihat tingkah Deo saat menganggu Icha, aku mau tertawa. There is some thing wrong !

Siswiku juga kadang mengatakan, ” Bunda, aku suka lucu kalau Deo lagi marah atau tertawa. Pipinya itu lho, Bun. Kalau Deo tertawa seluruh anggota tubuhnya bergerak. Kalau dia lagi malu pipinya memerah seperti kepiting rebus,” kata siswiku sambil tersenyum.

Aku tahu ungkapan hati mereka itu hanya ungkapan kesal sesaat dan setelah beberapa saat mereka tidak kesal lagi. Ah, anak-anak. Begitu mudahnya melupakan sesuatu. Mereka boleh berpendapat apapun asal tahu alasannya. Mereka berhak menyatakan ketidaksukaan mereka, tetapi mereka juga berusaha untuk keluar dari ketidaksukaan itu. Lebih dari semua itu, mereka hanyalah anak-anak. Deo dan siswa yang tidak suka kepadanya tetaplah seorang yang tetap butuh perhatian dan meluangkan waktu sedikit untuk mereka adalah sangat dianjurkan.senyum.jpg

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s