Cinta akan Kedewasaan

Mencintai orang yang lebih dewasa, ah rasanya tidak mungkin. Andai dia tahu bahwa yang dia lakukan adalah suatu kesalahan mungkin tidak akan pernah dia menjalani hubungannya dengan lelaki dewasa. Tak terbersit sedikit pun rasa ingin atau sekedar mengagumi lelaki dewasa yang sudah mapan, tapi kenyataannya, dia telah melakukan hal tersebut.

Mencintai bagi dia merupakn suatu yang menganggu ketika dia merasa ada rasa cinta dan sayang kepada laki-laki dewasa selain orang tuanya. Rasa cinta dan sayang itu bukan hanya rasa yang dia miliki layaknya rasa y\cinta yang dia berikan atau dia rasakan ketika bersama orang tuanya. Dia tak pernah menyadari bahwa yang dia lakukan adalah hal yang salah. Pernah dia berpikir bahwa rasa itu hanyalah rasa yang dia rasakan karena dia merasa dirinya masih kecil dan bersikap kekanak-kanakan. Dia merasa nyaman ketika dia berdekatan dengan orang yang layaknya dia sebut sebagai ayah.

Lambat laun rasa itu berubah menjadi rasa yang berbeda, jauh dari yang dia bayangkan. Dia merasa seluruh orang menghina sikapnya. Dia merasa semua orang mencibir dan mengatakan dia tidak tahu diri, tapi itu hanya dalam pikirannya saja karena tak pernah dia berperilaku yang membuat orang tahu kalau dia menyukai lelaki dewasa.

Mula-mula dia menganggap lelaki dewasa adalah seorang ayah. Bersamanyalah dia mendapatkan perlindungan, kasih sayang, dan kehangatan. Rasa itu terasa cepat sekali berubah menjadi rasa yang jauh mengejutkan. Rasa suka seorang wanita kepada seorang laki-laki, itulah yang dia rasakan saat ini. Tanggung jawab, pengertian, dan perhatian yang lelaki dewasa itu berikan layaknya atau tepatnya ia curahkan sebagai bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anaknya ditanggapi berbeda dari dia.

Dia tak tahu harus berbuat apa. Di hatinya terbersit untuk menyingkirkan dan kadang dia menisbahkan dirinya sebagai wanita yang hina. Dia tahu lelaki dewasa itu sudah mempunyai anak, usianya pun jauh di  atas usianya, tapi semua itu tidak bisa membuat dia melupakan lelaki dewasa yang tertanam dalam benak luasnya yang kini mulai menyempit karena keberadaan lelaki dewasa itu.

“Aku harus berbuat apa. Aku tidak pernah ingin merasakan cinta kepada lelaki itu !” Teriaknya dalam hati. “Kalau pun aku mencintai seorang lelaki, aku tahu batas. Aku tidak akan berani mencintai lelaki yang sudah beristri !” lanjutnya kembali.

Wanita itu menangis dan terus menangis di atas sajadah yang terhampar di kamarnya, tempat teraman dan ternyaman yang dia punyai. Teman akrabnya pun tidak pernah dia ceritakan bahwa dia sedang mencintai lelaki dewasa. Dia hanya memendam rasa yang selama ini dia rasakan sebagai sesuatu yang sangat menyiksa dirinya. Dia sendiri tanpa kawan. Hanya batinnya dan Allah saja yang tahu keadaan dia yang sesungguhnya.

“salah kah aku ya Allah. Aku mencintainya karena kesholehan yang dia miliki. Aku mencintainya karena akhlaq yang baik dan indah yang dia punyai. Patutkan aku disalahkan yang Allah jika aku tidak menginginkannya sedang rasa itu datang dengan sendirinya dan aku tidak pernah menginginkn rasa itu ya Allah.” Dia larut dalam tangis yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia merasa dirinya tak pantas diberikan cobaan seperti ini. Hatinya menjerit untuk menyangkal bahwa dia tidak sepenuhnya mengingikan rasa itu berkecamuk di dadanya. Andai pun rasa itu muncul di hatinya, yang dia inginkan bukan lelaki dewasa yang pantas dia sebut sebagai ayah.

Dia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Dia tidak percaya bahwa orang lain bisa memahami dirinya seutuhnya. Dia malah bersu’udzon dengan apa-apa yang akan dikatakan oleh orang lain terhadap apa yang akan dia sampaikan. Lelaki dewasa itu memang pantas untuk dicintai, tapi bukannya cinta seperti cintanya seorang wanita terhadap seorang laki-laki, tapi cinta antara seorang anak terhadap ayahnya.

Wanita itu selalu menyalahkan dirinya. Dia tahu bahwa suatu saat nanti dia akan dipertemukan dengan seorang yang lebih pantas untuknya, bukan lelaki dewasa yang dia kenal sekarang ini.

Kalaupun lelaki dewasa itu adalah jodoh yang Allah tetapkan untuk dirinya, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pasti cemoohan dan wajah sinis akan dia rasakan ketika dia bertemu dengan tetangga-tetangganya. Dia tepis semua su’udzon terhadap tetangganya.

Sudah banyak orang mau mendekatinya. Ada juga yang ingin mengajaknya untuk mengarungi bahtera kehidupan keluarga, tapi dia tolak. Dia merasa di dalam diri lelaki yang mencoba mendekatinya itu tidak memiliki sifat-sifat seperti lelaki dewasa itu. Dia fokus pada sifat yang dia lihat pada lelaki dewasa itu dan menutup jauh setiap sifat yang dimiliki oleh lelaki muda yang datang kepadanya.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Cinta akan Kedewasaan

  1. upay berkata:

    nice story 😦

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s