Waham (1)

Aku bertemu lagi dengannya. Memang pertemuanku kali ini bukan lah pertemuan yang kedua, tapi mungkin yang ketiga atau keempat kalinya. Aku tak menyangka, tempat yang ketika aku bertemu dengannya adalah di musholah. Aku ingat ketika itu, aku bertemu dengannya di musholah PS.Disana adalah pemandangan yang sama seperti apa yang pernah aku lihat. Dia menenteng tas besar seperti tas untuk mudik. Dia memakai jilbab kaos lebar coklat dan gamis yang senada dengan warnanya. Dia tetap memakai kacamata, tetap dengan sorot mata yang sangat tajam dan tanpa senyum, menyeringai.

Aku sangat terkejut dengan kehadirannya disana. Aku tak tahu sedang apa dia disana, apakah dia hanya ingin sholat ataukah dia ingin menjajahkan dagangannya yang ada di dalam tasnya. Aku sangat terkejut sekali, ketika aku melihat ke arah dalam, hendak meletakkan tas, dia melihat ke arahku. Aku terkejut dan ternyata dia melihat ke arahku. Dia melihatku dengan sorot mata yang tajam. Aku tidak tahu apakah dia mengenaliku atau tidak. Dia duduk bersandar di dinding sebelah kanan dengan kaki yang dia tekuk sehingga membentuk huruf V. Untung saja aku bersama temanku. Aku disana ketakutan dan cepat-cepat aku ke tempat wudhu dan aku menemui temanku itu. Aku menceritakan semuanya tentang dia kepada temanku. Aku berharap temanku itu bisa mengatasi ketakutanku itu. Aku hanya takut dia ngamuk dan mengatakan aku yang tidak-tidak!


“Bunda, Bunda tolong lihat Mbak itu dulu, kalau masih ada dia disana aku tidak mau sholat disini, mendingan kita pulang saja.” Ternyata temanku itu berpikiran bijaksana, “Bunda, Bunda wudhulah dulu, nanti kalau Mbak itu sedang sholat Bunda baru masuk. Sudah Bun, sekarang wudhu ya, nanti saya yang ngeliat ke dalam. Kalau saya bilang Bunda boleh masuk, maka Bunda harus masuk.” Aku meski takut, tetapi telah terobati sedikit oleh nasihatnya. Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi, tapi kali ini Allah ingin mengujiku, apakah aku lebih mementingkan sholat atau hanya ketakutanku terhadap manusia ?

Aku sholat dan setelah sholat aku dibertahu temanku kalau dia masih ada disana, duduk dengan bersandar di dinding musholah. Dia tidak melihat ke arahku, tapi aku merasa tubuhku dikenali olehnya. Aku merasa semua yang aku tahu tentangnya telah cukup membuatku berwaspada. Aku harus mempunyai taktik ketika aku berhadapan dengannya. Aku tak sanggup jika difitnah lagi olehnya. Aku merasa fitnahan yang terlontar dari mulutnya merupakan fitnah terbesar untukku.

Jika kalian bertemu dengannya, orang dengan deskripsi yang saya ceritakan tadi, dengan ciri :
1.Ingin dihormati sehingga menganggap dirinya yang paling hebat, dia yang serba tahu, dia yang bisa segalanya.
2. Paranoia, dia yang selalu curiga kepada siapa pun yang ada di sekitarnya sehingga sorot matanya terkesan menakutkan dan sedikit sangat atau sangat sanggar saat melihat orang lain.
3. Pertama-tama dia akan bersikap hormat kepada kita, dalam keadaan normal, tapi jika dia terpecik sedikit sisi egonya, maka dia akan ‘ngamuk’.
4. Biasanya yang dia dekati adalah seorang wanita yang berjilbab lebar.
5. Tidak segan dan malu-malu menginap ke rumah orang lain.
6. Namanya Risma, usianya sekitar 35 tahun, bertubuh kecil dan berkulit agak gelap.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan :
1. Jangan pernah menyinggung harga dirinya.
2. Bersikaplah tidak tahu jika Anda pernah bermasalah dengannya, mungkin pada saat Anda bermasalah dia akan mengingat Anda dengan ingatan yang dasyat.
3. Mintalah kepada Allah agar dihindari dari kejahatan fitnahnya karena Allah-lah Pelindung dan Penolong.
4. Bila pertemuan dengannya tidak bisa dihindari, cobalah meminta bantuan kepada orang lain. Carilah tempat yang aman dari penglihatannya karena dia akan mengejar kita yang sudah dikenalinya.

Cerita berikutnya, dia dan hubungannya dengan orang lain… .

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s