Waham

Wajahnya terlihat lusuh dengan jilbab yang warnanya hampir pudar. Matanya menyorotkan ketakutan dan kecurigaan yang mendalam ketika melihat siapa pun yang melihat ke arahnya. Kacamatanya masih tercantol di kedua sisi hidungnya yang sedikit melorot karena daging diantara kedua sisi hidungnya yang semakin menipis. Matanya menegadah di atas langit-langit kamarnya yang beratapkan nipah. Dia menerawang dan terus mengocehkan sesuatu perkataan yang tidak jelas vokalnya. Mata itu awas seperti mata harimau yang siap menerkam mangsanya lalu memasukkan mangsanya ke dalam mulutnya.

Dia selalu cemberut. Tak pernah aku melihat senyum di wajahnya sejak perkenalan pertama antara aku dan dia. Dia cantik, wajahnya terlihat lebih tua dibadingkan dengan usia sebenarnya. Dia tidak pernah menyungingkan sedikit pun senyuman kepada orang lain termasuk kepadaku.
Dia orang yang terlihat aneh dan lebih aneh lagi setelah aku mengenalnya.

Bila dia berjalan ke luar rumah karena suatu keperluan, dia selalu membawa tas besar yang isinya baju dan buku-buku bekas. Semua barang itu akan dijualnya dengan harga yang tidak pantas. Jilbab yang lusuh dengan bordiran yang sudah lepas di pinggir-pinggirnya dia jual seperti harga jilbab yang baru. Dia akan marah dan mengatakan yang tidak benar tentang pembelinya jika sesuatu menyinggung harga dirinya. Coba saja katakan padanya, ” Jilbab jelek dan sudah bekas aja harganya melambung. Mendingan beli yang baru !” Kalau berani katakan kepadanya seperti itu. Dia akan memberikan satu kata, “Berhentilah ngomong dan tahu aturan !”

Perkenalan dengannya merupakan perkenalan yang tidak kuinginkan. Ternyata dari perkenalan itulah awal dari teror yang menakutkan bagiku. Kalau pun aku tidak mengenalnya, mungkin aku tidak tahu seperti apa orang yang berjilbab besar, berkacamata besar ini.

Lihatlah dia, dengan tas besar, gamis, dan jilbab besarnya dia berjalan menyusuri tratoar di depan sebuah toko buku terbama di Palembang. Peluh kulihat di dahinya. Wajahnya terlihat keras yang mencerminkan kekerasan hatinya. Dia melangkah dengan pasti meskipun bawaan yang ada di tangannya tidak sebanding dengan ukuran badannya yang kecil, sekitar 150 cm. Tubuh kecilnya terlihat tenggelam dengan perlengkapan yang ia kenakan. Langkahnya tetap ia kayuhkan sampai dia memasuki toko buku tersebut lalu duduk di sebuah kursi di depan kasir toko itu. Dia meletakkan tas yang ada di pundaknya dan cepat-cepat ia mengambil kerta untuk kemudian ia kibaskan di depan wajahnya. Dia menghapus keringatnya yang sudah memenuhi wajahnya yang tirus itu.

Wajah itu terlihat lelah dan dia menyeracau, menyebutkan sesuatu yang tidak aku mengerti. Aku berada disana jauh sebelum dia menyapaku. Dia menyapaku pada saat aku menunggu teman di depan toko buku itu. Dia menegurku, tapi dia tegurannya tidak seperti teguran kebanyakan orang berjilbab besar yang pernah aku temui. Dia menegurku, tapi sedikit pedas. Dia menegurku tanpa ada lemah lembutnya seorang yang berjilbab besar. Senyum kecut pun tidak dia berikan kepadaku. Aku masih biasa dibalik sikapnya yang termasuk aneh kepadaku. Aku merasa terganggu danm ‘kenormalan’ yang dia berikan kepadaku pada saat kami berjumpa. ‘Kenormalan’ yang dia tutupi dariku sesungguhnya  memberikan tanda tanya yang besar di benakku.

Awal itulah yang menyebabkan aku lebih mengenal ketidaknormalannya di balik kenormalan yang dia perlihatkan. Dia berkenalan denganku. Dia menyapaku dan langsung meminta alamat dan nomor telepon rumahku. Dia memintanya dengan wajah yang masam. Dia tidak mengucapkan terima kasih ketika aku memberikan alamatku kepadanya. Dia hanya berkata,” Boleh kan kalau nati ayuk maen dan nginap di rumah ?” Aku hanya menjawabnya singkat, “Boleh.”

Ternyata apa yang dia ucapkan padaku pada saat di toko buku itu benar-benar dia laksanakan. Dia meneleponku. Dia mengatakan kalau dia ingin menginap di rumahku karena dia kemalaman dan rumahnya jauh. Alasan itu ternyata bisa membuat aku mengajaknya ke rumah. Dia datang malam-malam dengan menyandang tas di bahunya. Dia terseok-seok membawa perlengkapan itu.

Dia memasuki rumahku, tapi dengan keadaan yang tidak normal di dalam pikiranku. Dia tidak tersenyum sedikit pun ! Malamnya aku tidak bisa tidur. Dia bercerita terus hingga aku lelah mendengar ceritanya. Dia bercerita tentang semua ustad di Jakarta mengenalnya ketika dia pergi ke Jakarta. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah Zainab binti Ali bin Abi Thalib r.ha.(waham kebesaran), dia bercerita tentang dia yang wajahnya sempat menjadi cover dari sebuah majalah Islam nasional. Dengan ketidakpercayaan yang aku miliki, ternyata dia tahu. Dia merasa aku melecehkan perkataannya. Dia lalu berjanji ingin memberikan cover majalah Islam itu kepadaku sebagai bukti bahwa perkataannya itu tidak main-main. Aku anggukkan juga kepalaku untuk mengakhiri tentang cover majalah itu.

Dia juga menceritakan kepadaku tentang ketimpangan sikap keluarganya yang diberikan kepadanya dan adiknya. Dia tinggal di kamarnya yang reot, penggap, dan sempit tidak sebanding dengan fasilitas yang diberikan kepada adiknya adiknya. Cerita orang tuanya yang tidak menyetujui dia ikut berbagai organisasi karena takut nilai akademiknya anjlok.

Waktu makan pun dia tidak tersenyum. Dia berlaku seperti seorang raja yang siap dilayani oleh dayang-dayangnya. Dia merasa dirinya lebih dibandingkan orang lain. Dia hanya duduk dan melihat aku yang sedang menyiapkan makan malam. Tidak sebentar pun dia membantuku. Dia hanya duduk dan duduk dengan mata yang sangat mengerikan.

Kecurigaanku tentang ketidaknormalannya seakan dibukakan oleh Allah. Aku tidak boleh menyentuh sisi egonya. Aku harus manut dan tidak boleh mengusik harga dirinya. Kalaupun sesuatu yang dia bicarakan itu tidak aku sukai, aku hanya diam dan berusaha untuk menghormatinya sebagai tamuku serta saudaraku. Aku tak mau mersuudzan tapi kenyataan yang diperlihatkan atau pun yang terlihat darinya untukku sangat menyakinkanku bahwa dia tidak normal, jiwanya terganggu.

Tiada yang dapat aku katakan tentangnya. Setelah dia pulang. Iya, aku tidak mengantarkannya pulang sampai ke depan lorongku. Aku hanya mengantarkanya di depan teras rumahku saja. Dia tidak mengucapkan terima kasih dan tidak berpamitan kepada orang tuaku. Belumlah dia sampai di depan lorong rumahku, aku buru-buru mengangkat telepon dan aku memencet nomor teman baikku. Aku bertanya tentangnya kepada temanku itu. Ternyata dugaanku benar, dia terganggu !

Aku berharap apa yang aku temui itu tidak akan terulang lagi dan temanku menyarankan untuk tidak sembarangan menerima tamu kalau belum jelas identitasnya. Alhamdulillah aku tidak menjadi objek amukannya. Aku dengar dari temanku itu bahwa dia pernah mengobrak-abrik salah satu DPP sebuah partai politik karena tidak aada yang menyambut kedatangannya.

Aku berharap cerita itu adalah akhir dari ceritaku dengannya. Ternyata tidak ! Aku bertemu denganya ketika aku sudah mengajar di SDIT, dia sholat di masjid sekolahku. Aku melihatnya aneh. Aku melihatnya dengan tersenyum, tapi nyatanya tetap sama. Kan aku sudah tahu sifatnya. Dia tidak menegurku. Dia juga tidak menegur siapa pun yang ada disana. Dia hanya melihat sekelilingnya dengan sorot mata yang tajam. Dia melihat dengan tatapan yang tidak ramah sehingga tidak satu pun orang yang mencoba mendekatinya. Mungkin ada rasa takut ketika melihatnyalah yang membuat orang enggan menegurnya.

Aku yang merasa kenal baik dengannya menegur dan setelah sholat aku bersalaman dengannya. Aku tidak langsung berjongkok untuk menyalaminya. Dia hanya duduk sehingga aku sangat sulit menyalaminya. Aku tidak bermaksud menyalaminya, sebenarnya, tapi karena aku tahu dia mengenalku dan aku menegenalnya serta mungkin saja dia marah ketika tidak aku salami, maka aku memberikan salam padanya, cipika-cipiki.

Dia tidak menerima sikapku yang tidak jongkok saat menyalaminya. Secara tak sengaja aku mengucapkan kata, ” KOq mau dihormati betul sih !” Ternyata hal itulah yang memicu dia untuk memarahi aku. Dia langsung marah dan menyeracau yang tidak benar. Dia berkata aku bukanlah wanita yang baik-baik, aku tidak suci lagi, dan ada ustad yang sudah menggauliku. Aku hanya beristighfar mendengar ucapannya itu. Aku tetap melihat ke arahnya. Dia menunjuk-nunjuk ke arahku dengan ocehan yang tidak jelas kebenarannya. Matanya memerah, wajahnya sangar, urat-urat yang ada di wajahnya seolah keluar dan berusaha menunjukkan ketidak normalan yang ia miliki. Dia hanya menyeracau. Hanya istighfar dan ucapan dzikir yang bisa aku lantunankan . Aku mohon perlindungan Allah akan nasibku hari iru karena tertanam di dalam hatiku bahwa Allah Pelindung dan Penolong, maka pasti aku diselamatkan oleh-Nya.

Alhamdulillah aku dirangkul oleh teman. Dia langsung membawaku ke dalam TKIT. Aku hanya bisa menangis dan menangis karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku sedih memikirkan apa yang dia ucapkan. Ketidak benaran dari apa yang dia ucapan itu merupan fitnah terbesar yang pernah aku dapatkan dari orang lain. Sungguh kalau pun aku bertemu dengannya lain kali mungkin aku tidak bisa menahan ketakutan ini. Bukan ketakutan karena lemparan atau tunjukan tangannya ke arahku, tapi ketakutan akan fitnahlha yang membuatku ngeri sehingga orang yang berjilbab sepertiku akan merasakan imbasnya.

Nantikan ceritaku ketika aku bertemu dengannya kembali… .Insya Allah

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Waham

  1. febriyan nasution berkata:

    Assalamualaikum…

    bagus juga pengalaman kamu….

    meliana merespon :

    Wa’alaykum salam wr.wb,
    Makasih…

    pengalaman yang indah sampe indahnya Meli ga mau kena lagi, tapi kalau ada pengalaman yang serupa… ya ga papa…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s