Saat ‘Puber’Mendekati Mereka

 Masa puber telah memasuki anak-anakku. Rasa suka kepada lawan jenisnya mulai tumbuh dan berkembang pesat pada tahun ke-5 mereka di sekolah. Puber… Kata tersebut sarat dengan pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh para remaja. Remaja dikatakan ‘puber’ jika dia telah mengalami tahapan-tahapannya. Berikut tahapan yang sangat terlihat di sekitarku  dilihat dari sisi psikologis :

    1. Timbulnya rasa suka terhadap teman sebaya yang berlainan jenis sehingga sering terdengar ejekan,” Ye…si A suka sama si B.” Aku tak menyangka hal itu telah terjadi pada anak SD. Ejekan itu pun mendapat tanggapan yang tak kalah hebohnya sehingga ketika ejekan kembali kepada yang mengejek, maka wajah yang mengejek menjadi ‘merah’. Andaikata masa pra puber itu terjadi, maka pada saat inilah masa itu berlangsung. Masa genital merupakan sebutan dari para ahli untuk masa ini.

    2. Ada beberapa siswa/ anak yang telah memiliki perubahan perilaku, yang sangat mencolok adalah perilaku yang semula terbuka, kini menjadi sangat tertutup. Anak yang biasanya mau curhat dan berbagi dengan kita (guru atau orang tua) menjadi sedikit menjauh sehingga anak terlihat agak pendiam dibandingkan teman-temannya yang lain. Anak mulai mencari teman yang bisa diajak berbagi dan diyakininnya sebagai seorang yang bisa menyimpan dalam-dalam rahasia yang akan ia ceritakan. Tak kalah ekstrimnya, si anak akan membuat geng hanya karena dia merasa gengnyalah membuat dia nyaman dan mampu menyimpan apa yang mereka katakan ‘rahasia’.

    3.Penerapan tanggung jawab bagi anak yang berada dalam batasan puber atau pra puber pun bisa terlihat jelas. Mereka akan melakukan sesuatu tanpa harus diperintah lagi. Inisiatif untuk melakukan sesuatu pekerjaan terlihat jelas pada masa ini. Misalnya, ketika orang tuanya sibuk atau gurunya repot dengan kegiatan di kelas, siswa tersebut akan berinisiatif membantu mereka, itu pun semampu mereka. Hal itu tidak selalu dilakukan oleh setiap anak yang berada pada masa puber atau pra puber. Ada anak yang belum berada pada masa itu akan melakukan hal yang sama. Ini tergantung dengan kepekaan anak terhadap pengalaman yang mereka dapatkan dalam 5 tahun pertama kehidupannya.

    4. Ego anak terlihat jelas pada masa ini. Mereka sering memberontak bahkan menentang apa yang diperintahkan oleh orang tua atau gurunya jika apa yang diperintahkan tidak sesuai dengan pendapat dan logika mereka. Perkelahian manjadi penglihatan sehari-hari pada masa ini meskipun yang terjadi bukanlah perkelahian dalam arti sebenarnya, misalnya adu mulut. Para pelaku perkelahian tidak ada yang merasa salah sehingga timbullah kemarahan yang terpendam di dalam diri masing-masing. Jika ego muncul pada masa ini maka super ego yang ada pada diri seseorang akan terkalahkan olehnya.

    5. Anak akan diterima oleh teman sebayanya jika anak tersebut bisa menjalani apapun yang diinginkan oleh kelompok mereka sehingga penerimaan dan sikap conformitas pada masa ini sangat dibutuhkan anak. Anak yang centil bisa diterima oleh teman sebayanya yang centil, tetapi tidak pada teman sebaya yang agamis. Tak jarang anak yang merasa tidak bisa memenuhi target suatu kelompok teman sebayanya menjadi minder bahkan seolah menjauh dari suatu perkumpulan hanya karena ada sesuatu di dalam dirinya yang dianggapnya tidak sesuai dengan norma suatu kelompok teman sebayanya.

    6. Perilaku anak tidak lagi alami, terkadang anak akan membuat modifikasi perilaku yang bisa membohongi dirinya sendiri, misalnya untuk diterima oleh suatu kelompok, anak akan mencoba mengimitasikan perilaku anggota kelompok itu ke dalam diri mereka sehingga dalam pergaulan anak akan terlihat kaku/rigid dan terkesan tertekan dengan keadaan tersebut.

    7. Aku dan keinginanku. …Pikirkan hanya aku, bukan orang lain. Selain aku, tidak ada ! Singkirkan apa yang akan terjadi pada orang lain. Yang penting, aku berhasil/aku selamat/aku tidak dimarahi/aku tidak dimusuhi, dan…. Betul, kata-kata itu bisa saja terjadi pada anak yang memasuki masa puber.

    8. Kebutuhan akan cinta kasih dan sayang yang berada pada tingkat yang ketiga dari piramida Maslow tanpanya berjalan sangat drastis sehingga banyak terjadi kesalahan yang fatal, yang menyebabkan anak ‘memaknai ‘cinta’ tanpa cinta’. Perilaku yang tidak diinginkan bisa terjadi jika tanpa pemahaman yang jelas tentang cinta dari orang tua/panutan mereka.

    Lanjutannya kapan-kapan ya….

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Saat ‘Puber’Mendekati Mereka

  1. Gaara berkata:

    itu ga seberapa, di tempatku msih SD kissing di tempat gelap, gila ga tuhh…

    Astaghfirullahal adziim….Dunia semakin gini ^^

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s