Marahnya si Anak

Kemarin lusa, dua hari yang lalu, aku mendapati kejadian yang sangat tidak mengenakkan hatiku. Aku bertengkar dengan siswaku ! Aku marah dengan siswaku. Aku tidak tahu apakah yang aku lakukan itu salah ? Masalahnya hanya berupa masalah yang sepele. Aku marah dengan Angga, anak di kelasku. Aku marah karena Angga menuduhku tidak bertanggung jawab dengan apa yang dia inginkan.

Masalah ini bermula ketika pelajaran KTK (terampilan). Pada saat itu peljarannya membuat kubus dari karton biasa. Pada saat pulang, Angga menitipkan kartonnya kepadaku untuk kusimpan. Aku telah menyimpannya, tapi bukan di loker miliknya, tetapi di atas loker milik kelas. Besoknya, ketika pelajaran KTK, Angga marah kepadaku karena karton miliknya hilang. Sungguh, emosiku pada saat itu hampir-hamppir meledak. Kemudia untuk beberapa saat aku terdiam dan menjauhi Angga. Aku mendiamkan Angga dan tak lama kemudian aku mulai mengungkapkan semuanya, tetapi Angga tidak mau mendengarkan apa pun yang aku ucapkan. Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Aku lalu diam dan diam. Angga ngomong tentang apapun yang dia inginkan, dengan kata-kata yang kasar dan aku anggap tidak sopan kepadaku. Semakin aku mengacuhkan ucapannya, aku semakin dipojokkan. Aku tetap diam.

Untuk menghadapi permasalahan tersebut aku tidak akan diam saja. Aku harus melakukan tindakan yang tepat, tetapi tidak menyakiti hati orang lain. Aku segera memikirkan apa yang harus aku lakukan. Strategi telah kususun dengan sebaiknya. Aku mengambil secarik kertas lalu aku mulai menuliskan apa yang ada dengan kenyataan yang sebenarnya. Semua perasaan kuungkapkan di atas kertas itu. Aku mengungkapkan permintaan maafku kepada orang tuanya. Aku mengungkapkan kesalahan Angga, semuanya tanpa harus kututup-tutupi. Setelah kutulis surat itu, aku selipkan surat itu di buku penghubungnya Angga, tapi surat itu buru-buru Angga berikan kembali kepadaku, tepatnya ia letakkan surat itu di atas mejaku.

Wajah Angga terlihat marah. Dahinya berkerut ! Aku akhirnya berinisiatif untuk memberikn surat itu ke supir antarjemputnya Angga. Alhamdulillah aku bertemu dengan sopirnya. Aku minta tolong kepada Om sopir untuk memberikan suratku itu dan seklian aku minta nomor telepon mama Angga.

Besoknya, surat itu telah membuahkan hasil. Aku langsung ditelepon oleh mama Angga. Mama Angga meminta maaf atas apa yang telah Angga lakukan kepadaku. Ternyata, bukan hanya di sekolah saja Angga bertingkah seperti itu, di rumah dia pun melakukan hal yang sama. Angga ternyata tidak memiliki keluarga yang utuh lagi. Orang tuanya telah bercerai. Dia anak laki-laki satu-satunya. Setelah mendengar penjelasan tentang Angga, aku malah merasa kasihan dengan Angga. Marahku terhapuskan oleh rasa kasihan yang mulai meliputi hatiku.

Pagi itu, Angga mulai menegurku dan aku pun masih merasa cuek. Aku sudah lama memaafkan apa yang Angga lakukan kepadaku sebelum dia meminta maaf kepadaku. Ketika semua sudah pulang, Angga menghampiriku dan mulai meminta maaf. Belum selesai dia meminta maaf, dia sudah mengeluarkan air matanya. Aku tidak begitu kaget melihatnya karena mama Angga sebelumnya telah menjelaskan kepadaku tentang sifat Angga. Aku hanya menepuk pundaknya dan berkata,” Bunda sudah memaafkan Angga, tapi Bunda masih kesal dengan sifat Angga…Nuduh itu boleh, tapi tanya dulu apakah tuduhan itu benar. Kan nggak enak marah padahal syaithan mudah sekali hinggap ketika kita marah…Angga sekarang maunya apa ? Bunda ganti kartonnya atau sekaligus Bunda buat lagi kubusnya. mau ?” Tanyaku dan hanya dijawab oleh Angga dengan kata “Tidak” dan gelengan kepalanya.

Angga adalah salah satu siswa yang tempramen di sekolahku karena kondisi keluarga.  Mendekatinya pun tidak bisa dilakukan dengan nasihat jika Angga dalam keadaan marah, tapi jika hatinya sudah tenang, maka nasihat apa pun akan ia dengarkan.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Isi Hatiku. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s