Ramadhan dan Sedekah

“Aku mau nulis apa ya hari ni ?  Nggak ada ide. Kepalaku mumet. MUngkin karena puasa kali ya…tapi nggak koq puasa dijadikan alasan. Bete. Nggak ada ide. Terus ngetik, eh taunya idenya nonggol. Ngetik ah….”

Ramadhan…Terasa sangat cepat berlalu. Ramdhan…tapi belum juga aku bisa mengkhatamkan tilawahku, malah aku telah tertinggal jauh dari jumlah bilangan Ramadhan…

Ramadhan ini sepi, yang tinggal hanya aku dan kedua orang tuaku beserta kucing-kucing kesayangan dan penyenang hatiku. Aku ingat seorang anak yang beberapa waktu lalu kutemui di sebuah minimarket. Dia anak laki-laki, kira-kira usianya 6/7 tahun. Wajahnya polos namun terkesan amburadul. Dia melihat ke arah ku yang sedang memilih es krem disana. Aku merasa tertarik dan aku ingin memberikannya es krem, tapi ketika aku menawarinya…dia tidak mau. Dia menolaknya dengan lembut, hanya menggelengkan kepalanya saja.

Terbersitlah dalam pikiranku,” Masa dikasih es krem nggak mau. Mestinya dia berterima kasih,” gumamku dalam hati. Tak berapa lama kemudian, ujung matanya selalu mengikuti aku ke mana pun aku pergi. Aku ke bagian roti, eh dia nurut juga. Ke bagian kosmetik, dia juga ikut. “Ah…, nih anak maunya apa sih ?” pikirku.

Aku keluar dari minimarket yang telah aku telusuri semua yang aku butuhi di dalamnya. Aku tetap melihat ke arahnya. Tak sadar aku merogohkan saku rokku dan aku menggambil uang receh. Segera aku berikan kepadanya dan ternyata dia menerimanya dengan, “Terima kasih ya, Yuk,” katanya.

Aku senang dengan diterimanya pemberianku yang tak seberapa itu. Keberadaanya dan penerimaannya itu menyentil hatiku bahwa bukan es krem yang dia butuh. Dia hanya membutuhkan sedikit uang untuk membeli sepotong roti mungkin, yang pada dasarnya sangat dibutuhkan oleh tubuhnya.

Ramadhan…membawa berkah tersendiri bagi mereka yang membutuhkan. Ramadhan juga memberikan peluang bagi yang tidak begitu membutuhkan untuk memberikann apa yang dibutuhkan kepada orang yang membutuhkan. Ramadhan syarat dengan kebaikan, apa lagi yang harus ditunggu ? Banyak orang yang melihat orang berlomba-lomba melakukan kebaikan sedang dia sendiri duduk berpangku tangan.

Ramadhan…juga bukan untuk sok-sokan, saling memperlihatkan kemampuan hanya untuk dipuji atau disanjung banyak orang. Ramadhan menjaring keikhlasan menjadi suatu keharusan yang berbuah ketakwaan.

Aku ingat kisa berhikmah yang aku sampaikan di depan kelas beberapa hari yang lalu. Kisah tentang nabi Khidir a.s. yang merelakan tubuhnya yang sudah tua dan lemah untuk disedekahkan di jalan Allah. Apa yang terjadi ketika keikhlasan bersedekah itu ia lakukan ? Yang terjadi adalah…Allah membantu pekerjaan apa pun yang ia lakukan, tanpa merasa terbebani sedikit pun dan tanpa kepayahan.

Kalaulah semua orang paham akan Ramadhan… Pasti dia tak ingin ditinggalkan….Inginkah Anda meninggalkannya, Saudaraku. Berikan apa yang dibutuhkan orang, tanpa mengeluh kalau kita membutuhkannya juga. Berbaik hati mengikhlaskan, tanpa mengejek yang membutuhkan dengan berpositif thinking.

Kelupaskan kotoran-kotoran hati sehingga Ramadhan dan setiap Ramadhan yang kita jalani terasa lebih bermakna, dalam ketaatan pada-Nya.

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Nilai2 Islami. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s