Kepergian emak

“Jika saja ada emak di rumah. Aku pasti tidak serepot sekarang. Emak, kapan engkau pulang. Rasanya aktivitasku sangat membebaniku. Sekarang waktu serasa bergulir cepat dan penat setiap malam selalu menghantuiku. Ketakutan menghadapi siang seolah menghantam seluruh tubuhku dan sempat membuatku lemas bagian tubuhku. Ah, emak, kapankah engkau pulang. Rindu rasanya dengar ocehanmu,Emak, ” batinku berkata.

Emak yang sudah seminggu ini pergi bersama papaku ke Yogya membuatku sangat merndukannya. Mereka menemui adikku yang kecelakaan 6 bulan yang lalu. “Cobalah kalau aku libur, mungkin aku sudah lama ikut bersama dengan mereka dan aku pasti bergembira dengan mereka,” ucapku.

Pagi-pagi sekali aku bangun. Pagi-pagi juga aku membereskan rumah. Aku mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu rumah, membereskan tempat tidur, dan tak lupa pula memberi kucing-kucing kesayanganku yang lucu. Itulah aktivitasku setelah seminggu ini ditinggalkan emak. Aku pun mengusahakan memberi makan ikan dan menyiram tanaman.

Rasanya waktu sejam tak cukup bagiku untuk menyiram tanaman. Selalu saja beriringan dengan azan maghrib jika sore hari aku menyiram tanaman rawatan emak. Rasanya tanaman itu sangat membutuhkan kehadiran emak seperti aku juga yang sangat merindukan emak.

Pagi tadi, aku melihat makanan ikan tidak tersentuh sama sekali padahal makanan itu aku berikan setelah azan. Aku tidak tahu apakah ikan yang aku beri makan itu juga merindukan tuannya. Mereka mungkin merindukan papa yang biasanya sangat intensif memberi dan merawat mereka.

Siang tadi, ketika aku menyempatkan diri untuk izin ke rumah hanya sekadar untuk memberi ikan makan dan juga kucing-kucing kesayanganku, aku melihat beberapa bunga layu padahal aku sudah menyiramnya sore kemarin. Ya, biasanya dengan tangan lembut dan sentuhan yang penuh kasih sayang, emak selalu menyiram mereka. Mungkin saja bunga-bunga tanaman emak itu protes karena siramanku tidak seperti siraman dari emak. Emak cepatlah pulang.

Kalau ingat banyaknya aktivitasku setelah kepergian emak, aku merasa makan tak enak. Memang, dulu aku juga ikut membereskan rumah, tapi tidak semuanya. Sekarang, semuanya ada di tanganku. Kebersihan rumah, makan, dan semua-muanya adalah urusanku. Aku tak ingin rumahku kotor. Aku merasa tak nyaman bila sedikit saja kotoran terlihat di depan mataku. Aku langsung membersihkannya. Itulah aku.

Emak akan pulang sekitar 3 minggu lagi. Semua harus kujalani dengan kesabaran dan itu pun melatihku untuk lebih bersabar dan berkerja keras. Sungguh, kehilangan sosok emak yang bisa kuajak curhat dan berbagi di saat hatiku galau memang tidak mengenakan, apalagi aku sendirian….sepi…..

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Isi Hatiku. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s