Nenek dan Dendamnya

Lambaian dedaunan kelapa mengibaskan udara segar di tepi pantai ketika seorang ibu tiba-tiba berada di hadapanku. Ibu yang sudah tua, dengan raut wajah yang sangat renta. Gurat-gurat ketuaan terlihat di wajah tuanya. Teringatku kenangan beberapa tahun yang lalu ketika seorang ibu secara tidak sengaja menyadarkan kepadaku tentang arti kehidupan.

Sore itu, ketika semua teman kuliahku sudah pulang dari rutinitas pelajaran dan  semua pernak-pernik kampus. Aku menyempatkan diri menuju ke suatu tempat, tempat kesayanganku dan tempat kedamaianku. Tempat yang indah bagiku juga tempat yang sangat kuidam-idamkan ketika kepenatan menyapa jiwaku.

Tempatnya kecil, ditumbuhi dengan rerumputan yang hijau namun mulai mengguning, ada pohon rindang ditengahnya, kicauan burung terdengar di setiap sudut tempat, gemericik air terdengar dan menambah kenyamanan jiwaku. Aku terdiam, termenung, bertafakur, dan meraba kembali kilas-kilas ruang memoriku. Tiba-tiba sebuah suara mengagetkanku,” Cu, kenapa diam sendirian di tempat sekecil dan terpencil ini ?” tanya wajah tua itu.

“”Oh…ah…nenek, koq ada disini ? Nenek sendirian ya ?’ Tanyaku tanpa menjawab pertanyaan dari si  nenek.

” Aku tak tahu, Nek, aku ingin sekali kembali ke tempat ini,” lanjutku kembali.

“Cu, hati-hati, disini sering terjadi kejahatan, pemerkosaan, dan pembunuhan. Tempat ini tidak asing di telinga cucu pastinya. Mestinya Cucu tidak pergi sendirian.

Beberapa hari yang lalu aku membaca berita, lokasinya ya di tempat ini. Kejadian yang menyeramkan dan membuat aku bergindik ngeri. Koran pagi hari itu kulahap dengan nikmatny. Halaman peristiwa kejahatan adalah halaman pertama yang membuatku spontan menggerakkan tanganku untuk membacanya.

SEORANG WANITA DITEMUKAN DENGAN TUBUH YANG TERPOTONG-POTONG

Aku hanya tergangga, menyingkirkan koran itu sesegera mungkin dari hadapanku. Tubuhku gemetar dan rasa takut menghantuiku. Aku terlalu takut untuk mengingat kejadian itu dan aku terlalu pengecut hanya lantaran membaca berita itu. Kucoba menata kembali ketakutan itu dan memberanikan diri untukmelanjuti cerita yang sempat kuhentikan.

“Kematiannya hanya lantaran hal sepele. Setelah diselidiki dari berbagai pihak, ternyata peristiwa ini terjadi karena beberapa bulan yang lalu si wanita membuat seorang laki-laki– tetangganya– dendam lantaran cintanya ditolak….” lanjut berita itu.

“Mayatnya terpotong menjadi 8 bagian dan ditemukan di beberapa daerah yang berbeda…” kenangku kembali.

Aku kembali di tengah suasana yang membuatku damai. Nenek yang sedari tadi masih di sampingku seolah-olah memperhatikan seluruh gerak-gerikku. Aku terpaku dalam kenangan koran pagi itu.

“Cu, nenek perhatikan dari tadi kamu hanya melamun saja.” Dia memperhatikan wajahku dan tersenyum menyeringai. Senyum itu berbeda sekali dengan senyum yang kudapati saat pertama kali bertemu dengannya disini.

“Kamu pasti memikirkan kejadian di koran, yang lagi marak dibicarakan orang lain itu, kan ?” Tanyanya dengan wajah kaku dan dingin. Uh, mengerikan ! Aku hanya mengangguk dan kujawab,” Iya.”

“Wanita itu pantas untuk dibunuh! Itu semua salahnya ! Dia telah menyakiti hati cucu kesayanganku ! Sungguh, aku tak tega melihat dia disakiti oleh orang lain dan….Akulah yang memotong-motong tubuh wanita jahanam itu dengan gergaji !” Seringainya semakin tampak mengerikan. Wajah itu terlihat seperti wajah setan, bertanduk dan berwarna merah menyala.

“Siapa pun yang mencoba menyakiti hati cucuku, aku akan menyakiti lebih dari apa yang telah ia lakukan pada cucuku itu !” Ancamnya. Napasku tersegal-segal. Aku berlari jauh dan jauh, menembus ilalang yang kian meninggi di depanku. Menerobos berukar yang menyakiti seluruh tubuhku dan mencabik baju yang melekat di tubuhku. Darah bercucuran. Peluh membanjiri dahi dan sekujur tubuhku. Dalam ketakutan dan kecemasan yang sangat tiba-tiba seberkas cahaya menyilaukan mataku dan aku terbangun,”Alhamdulillah, hanya sebuah mimpi,” ujar batinku.

Krek…Siapa yang menanam akan menuai hasilnya

Kata-kata singkat itu membuatku terjaga kembali. Tergiang dalam gendang telingaku dan terpatri alam ingatanku. Apa maksudnya ?

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s