Jangan disesali

” Kenapa aku mendapat job seperti ini ?”

“Mengapa aku tidak bisa bekerja di perusahaan yang aku senangi dan aku dambakan?”

“Mengapa pula aku mencintai orang lain sedangkan cintanya tak sedikit pun untukku ?”

Selalu saja tanya yang kita hadirkan dalam benak kita bila sesuatu yang tidak kita sukai ada atau menimpa diri kita, tapi pernahkan kita berpikir bahwa sesuatu itu mendidik kita untuk berlatih menjadi orang yang sabar dan orang yang ikhlas. Saya ingat, seorang teman yang sangat mengeluhkan nasibnya. Setahun dia tidak mendapatkan pekerjaan dan pada saat yang tidak ia sangka akhirnya dia mendapatkan pekerjaan, walaupun pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Sehari rasanya seperti seminggu, seminggu seperti sebulan, sebulan seperti setahun, dan begitulah berikutnya. Apa yang dia alami, selalu saja rasa tak suka pada pekerjaannya hadir bahkan ras bosan untuk bekerja pun mengikuti hari-harinya. Apa dia lari dan menunggu beberapa bulan untuk membenahi hatinya? Tidak, dia terus bekerja…dia mulai mensyukuri pekerjaannya. Dia mulai menerima apapun pekerjaannya walaupun itu jauh dari apa yang dia harapkan. Sekarang dia mulai enjoy, dia menikmati uang jerih payahnya. Dia mulai bisa tersenyum dan bangga kepada dirinya bahwa dia bisa menjalani cobaan panjang bagi batinnya. Berperang dengan realita dan nuraninya.

Berbeda dengan teman di atas, seorang temanku juga mengalami nasib yang sama bahkan lebih dratis lagi. Dua tahun sudah dia menganggur. Kesempatan demi kesempatan yang ditawarkan olehnya lari begitu saja sampai-sampai dia  merasa sangat bosan dan hidup dalam kondisi stres. Lingkungan keluarga yang tidak mendukung menjadikan dia terpuruk dan menyendiri menyelesaiikan permasalahnnya. Sebuah tawaran akhirnya dia coba untuk ditindak lanjuti, yaitu tawaran dari orang tuanya, dengan cara yang tidak baik untuk memasuki instansi. Dia bimbang, tapi dia ingin bekerja karena desakan hati nuraninya dan terlebih lagi desakan orang tua. ..SmS singkat kulayangkan kepadanya,

“Jadi orang ikhlas itu dak mudah, tapi dak jugo sulit…polagi misalnya kehilangan seseuatu/orang/kesempatan yang kita sayangi…Kita sering mengalami ujian itu, misalnya ketika harus menerima tidak diterima kerja setelah beberapa kali tes…atau saat kucing kesayangan dibuang…menangis dan menyikapinya dengan satu keyakinan bahwa apapun yang terjadi Allah-lah Pelindung dan Penolong dan apapun yang terjadi adalah rahasia Allah”…Plong rasanya…Melihat ke bawah tanpa rasa minder…Ikhlas adalah indikator diterima/tidaknya amal dan itu yang tahu hanya Allah dan hati oran gtersebut… Klem ikhlas  dari bibir tidak menunjukkan keikhlasan seseorang …Ikhlas dibutuhkan dalam hidup, dengan ikhlas akan timbul rasa tawakal, pikiran bersih…Ikhlas, bercerminlah pada orang yang rela nyawanya untuk kebenaran merupakan 1 hal yang bisa menumbuhkan keikhlasan dalam menghadapi maslah hidup….”

Tawar itu ditolak!

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s