Sisi + spontanitas

Pagi itu nampak cerah, mentari pagi pun mulai menyiratkan warna jingganya di ufuk Timur dan menguapkan hawa dinginnya di atas rerumputan yang hampir kering karena dilanda kekeringan. Gambarannya persis di samping jendela kamarku. Belum lagi kuselesaikan melipat mukenah serta asyiknya menikmati pemandangan pagi yang indah itu, rasa kantuk menyelimuti kedua kelopak mataku dan perlahan, mataku mulai terkatup dan aku pun lelap dalam tidurku….

“Ma, lari…disana ada hewan buas. Dia akan menerkam kita!” teriakku setengah histeris dan dengan napas yang tersenggal-senggal.

“Nak, Kau larilah dulu, biar emak saja yang mengusirnya !” Teriakan itu membuatku sedikit memperlambat langkah kakiku. Kulihat emak sudah duduk terdiam dengan napasnya yang berhembus tidak teratur terlihat dari gerak rongga dadanya. Ah, emak memang usianya sudah cukup tua untuk berlari secepat itu apalagi lari ketakutan, dikejar binatang buas. Aku merenung, dalam mimpi…

“Emak, aku mencintaimu. Larilah emak! Cepat! Aku tak mau emak dimakan binatang buas. Aku tak sudi emak yang sangat kucintai dibantai binatang buas. Emak, aku mencintaimu…” lirihku dengan air mata yang sedikit berurai. Kudekati tempat duduknya dan aku berlari menghampiri emak. Kupeluk emak dengan eratnya. Ketika tangis di antaraku dan emak silih berganti bercucuran, hewan itu mendekati kami dari belakang dan….

Tak ada yang bisa membayangkan jika itu terjadi di dalam kehidupan nyata. Mungkin hal itu sangat mengerikan. Sungguh ! Tak bisa kubayangkan bila itu terjadi dalam dunai nyataku. Tak bisa kubayangkan tubuh emakku terluka dan terkoyak oleh geligi binatang buas…Ya, apakah dalam dunia nyata aku bisa seperti dalam mimpiku, berlari menghampiri emak dan duduk di sampingnya, membantunya berjalan dengan tertatih-tatih meskipun nyawaku sebagai taruhannya.Apakah mungkin, jika kita dihadapkan dengan situasi yang mendesak, kita akan membantu orang yang kita kasihi meskipun nyawa dalam balasan yang setimpal untuk itu? Mungkin, jika kita berada dalam situasi yang mendesak dan memerlukan respon yang cepat, mungkin saja ayah ibu, atau apapun yang kita cintai dan sangat kita sayangi tidak akan hadir dalam pikiran kita…

Berlatih spontanitas rasanya sangat diperlukan. Berpikir spontan tidaklah salah. Sewaktu-waktu untuk melaksanakan suatu tugas atau sekedar relaksasi spontanitas sangat diperlukan. Dengan berlatih berpikir spontan, keadaan apa pun mampu kita hadapi tanpa rasa panik yang bisa menjadi ketakutan tersendiri bagi kita.

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s