Awal Sekolah

 Wajah yang lucu, kecil, dan cute segera aku temui di sekolah ketika awal masuk sekolah. Wajah yang penuh tanda tanya pun aku lihat disana. Wajah anak-anak yang siap diisi dengan kebaikan bukan dengan keburukan.

Dalam psikologi terkenal dengan, ” Anak ibarat tabula rasa, seperti kertas putih, polos dan orang-orang di sekelilingnyalah yang menjadikan dia baik atau buruk.”

Tak berbeda jauh dengan ajaran Islam, “Anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, ayah ibunyalah yang membentuk dia apa orang Majusi, Yahudi, atau Nasrani.”

Awal masa sekolah bagi sebagian anak-anak merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan, tetapi berbeda dengan anak lainnya. Sebagian anak merasa dengan sekolah dia tidak dapat lagi bermain dengan teman-temannya seperti dia masih TK atau play group.

Mungkin anggapan itu akan terus berlanjut bahkan dengan anggapan ,”Ah, sekolah itu hanya tempat untuk belajar saja. Aku tidak akan bisa lagi bermain !” dan apa yang terjadi ? Timbullah perasaan tidak cinta kepada belajar, menangis bila disuruh mengerjakan tugas/latihan, pendiam, dan lain sebagainya.

Layaknya masa kanak-kanak, sekolah merupakan tempat bermain. Layaknya sekolah adalah tempat untuk menuntut ilmu keduniawian dan ukhrowiyah. Bagaimana memadukan keduanya sehingga menghasilkan sekolah yang betul-betul memberikan ilmu tanpa anak-anak harus dibebani dengan tugas-tugas yang belum selayaknya dibebankan kepada mereka ?

Sekolah bermain merupakan konsep ideal yang patut diterapkan pada masa kanak-kanak. Konsep inisudah banyak diterapkan oleh beberapa sekolah walaupun wahnya sebagian kecilnya saja. Sekolah Islam terpadu berusaha memadukan antara belajar dan bermain dengan metode yang menyenangkan.

Jika telah tercipta rasa suka dalam diri anak tentang suatu pelajaran, maka berlama-lama belajar merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi anak dan makan pun terlupakan.

Awal masa sekolah pun menjadi beban tersendiri dan amanah yang sangat berat dipikul bagi para pendidik, terutama pendidik yang mendidik di kelas I. Para pendidik tersebut berusaha untuk melahirkan dan membentuk generasi yang mandiri.

Kelelahan dan keikhlasan dipertaruhkan waktu awal masuk sekolah bagi para pendidik. Dengan keikhlasan maka apa pun yang disampaikan dan diterima akan menjadi sesuatu yang bernilai ibadah di sisi Allah.

Siapakah pendidik yang mau menjadi bernilai di sisi Allah, yang mau mendapat pahala di sisi Allah ? Semoga kita semua termasuk pendidik-pendidik yang tidak hanya mendapatkan kelelahan saja, tapi mendapatkan pahala ibadah dari Allah. Amiin. Setuju???

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s