Sehatmu, sebelum sakitmu

Tak ada yang ingin sakit. Jika sakit dan rasa tak menyenangkan hinggap di diri kita, maka kita akan berusaha untuk mencari solusinya sehingga kita bisa beraktivitas kembali. Sakit membawa berjuta hikmah dan banyak yang tidak menyadari hikmah dari sakit itu sendiri.

Orang akan sadar dirinya butuh bantuan orang lain ketika dia sakit. Kenapa ? Orang yang badannya kekar dan tubuhnya sehat akan merasa dirinya tak berdaya. Dia merasa seolah-olah dia tidak bisa berbuat sesuatu lagi. Ironinya, ketika sakitnya sudah hilang dari tubuhnya, dia malah berbuat maksiat…

Tak banyak orang yang sadar kesehatan penting untuk dijaga. Namun, ada beberapa orang yang sangkin pedulinya dengan kesehatan dia sangat menjaga kesehatan sampai-sampai takut kalau-kalau tubuhnya sakit.

Sakit bukan sesuatu yang ditakutkan dan bukan untuk ditakuti. Sakit juga bukan untuk menjadikan diri kita lemah. Seorang penderita kanker, baru sadar akan nikmat Allah setelah dia bergumul dengan penyakitnya selama 5 tahun, waktu yang tidak singkat bukan? Dia berobat kemana-mana dan mencari solusi agar penyakitnya bisa sembuh. Awal yang sulit dia alami untuk 5 tahun ke belakang. Keluahan kerap kali dia lontarkan dan nama Allah pun jarang lagi ia lantunkan. Ketika dia berjalan di sebuah rumah sakit, dia melihat seorang ibu yang berkepala gundul dengan napas yang sudah satu-satu berbaring di tempat tidur rumah sakit.

Sungguh, perjuangan si ibu sangat berat. Rasa sakit yang ia alami bukan rasa sakit biasa. Bukan pula rasa sakit yang biasa kita alami. Rasanya jauh lebih sakit dibandingkan sakit gigi. Baginya, dunia seakan-akan menjempit dirinya. Dokter yang selama ini telah berbuat banyak untuk penyembuhan dirinya tidak bisa berbuat banyak untuk hal yang satu itu.

Sampai suatu ketika dan ibu itu berkomentar,” Mengapa aku tidak berjuang seperti ibu itu sampai limit waktuku di dunia? Mengapa pula aku harus berputus asa padahal ada orang yang jauh lebih buruk keadaannya dibandingkan denganku.”

Pulir-bulir bening mulai mengalir di pipi si ibu. Tak terasa sujud syukur ia lakoni di atas sajadah yang telah lama ia tinggalkan. Dalam tangis yang panjang si ibu terus memohon ampunan Allah. Dalam Sujudnya yang dalam dan penuh ketakutan, bahunya terguncang hebat ketika dia teringat kembali,” Fabi’ayyi ‘ala irrabbikuma tukadziban…”

Pingsanlah ia….

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Nilai2 Islami. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s