Ketersiksaan Batin…

Kereta api jurusan Lubuk Linggau terasa sangat lambat jalannya. Udara di dalamnya membuatku gerah. Aku duduk di No. 7E/7F bersama adikku dan seorang bapak. Jurusan ekonomi memang jurusan favorit karena biayanya lebih murah dibandingkan kelas Bisnis dan eksekutif.

Perlahan kereta api mulai melaju. Bunyi tut…tut…mulai terdengar dan asap terlihat keluar dari gerbongnya. Kereta api dengan pastinya mengeluarkan bunyi khas, bunyi gesekan antara rodanya dengan rel yang melekat.

Udara pagi semestinya masih terasa sejuk dan sesaknya penumpanglah yang membuat udara di kereta api itu menjadi sangat tidak nyaman. Peluh pun perlahan berbaris membanjiri dahiku. Perlahan kukeluarkan buku tipis dari tas kecilku dan mulai kuayuhkan tanganku tepat berada di depan wajahku berulang kali.

Mulutku mulai menguap dan mataku mulai tertutup. Perlahan aku mulai memejamkan mataku dan aku terlelap  dalam tidurku yang singkat.

“Bruk…

Seperti bunyi suara benda jatuh, mataku terbelalak dengan cepatnya dan jantungku mulai berdetak tak karuan. Kulihat seorang wanita sedang duduk tepat di sudut bangku, di sampingku! Tubuhnya gempal hanya saja terlihat tak terurus. Pakaiannya kumal dan celana yang dia kenakan pun tak sewajar apa yang dinamakan pakaian.

Wajahnya melihat kesana kemari, curiga, dan sedikit menunduk untuk beberapa detik kemudian. Untuk beberapa detik kemudian dia tersenyum kepadaku, tapi senyum hampa dan kosong…

Dia diam….Aku mulai takut dan kubayangkan dia akan menyakitiku karena dalam pikiranku ‘dia gila’. Seringainyalah sebenarnya yang aku takutkan.

Seorang bapak mulai membuka pembicaraa,” Mbak, dengan siapa datang ke sini?” Tanya bapak yang berusia sekitar 40 tahun dan berjanggut tipis dengan sopan kepada si Mbak.
” Dewe’an,” jawaban singkat itu diakhiri tundukkan kepala lagi.

” Ngapoin datang kesini, Mbak?” Tanya bapak itu lagi.

” Apo dak marah wong tuo Mbak pegi jauh cak ini?” lanjut bapak itu kembali.

” “Apo dio aku diusir wong tuo aku. Aku dak lagi jadi urusan mereka,” katanya

” Aku hamil sebelum nikah ,” katanya tanpa ada raut bersalah sedikit pun dan malah yang tampil adalah tawa yang sebias hatinya.

” Jadi anaknyo sekarang dimano? Ngapo pulo nak ke Palembang?”

“Anak aku diurus bapak. Aku nak ke Palembang ke tempat ayuk aku,” tutupnya lalu dia berdiri sejenak dan terlihatlah auratnya, aurat yang semestinya tidak boleh diperlihatkan.

” Pak, minta duit, Pak, aku nak makan !” katanya tanpa rasa malu sedikit pun.

“Nak beli apo ?” Tanya bapak itu dan beliau merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang seribuan sebanyak dua lembar dan langsung dia berikan kepada si Mbak. Si Mbak menerimanya, tapi tak sedikit pun ekspresi yang berbeda yang kulihat dari wajahnya. Wajahnya tetap kosong, tanpa ekspresi.

” Lalu…

“Bu, minta kemplangnyo,” katanya tanpa rasa malu kembali.

Mbak itu tegak dan duduk lagi dengan tidak memperhatikan kondidi pakaiannya.

 Aku yang melihat menjadi sangat malu sebagai wanita…

Mbak itu mengoceh tak karuan, terkadang tertawa tanpa sebab dan diam serta terlihat sedih…

Ekspresi itu bergantian datangnya dan tak bisa diprediksi ekspresi apa yang akan terjadi setelah ekspresi sedih…kalau mentalnya sedang tak stabil.

” Mbak, mendingan Mbak pulang be ke Linggau lagi, minta maaf ke bapak Mbak. Pasti bapak Mbak mau memaafkan, Mbak, ” kataku singkat.

Keadaan stabilnya,” Ah, mano ado bapak nak nerimo aku. Kalo aku balek mungkin aku diusir lagi, mendingan aku pegi ke tempat ayuk aku,” katanya.

” Aku ini siap sangka, aku ini siapa saja….aku…aku…lala…lala…” ocehannya yang tak karuan membuatku ingin mengujinya apakah pikiran dan perkataannya masih bisa sejalan.

“Mbak, selain hamil di luar nikah, kesalahan apo bae yang Mbak lakukan?” Pertanyaanku tidak dijawab sama sekali dan kembali dia duduk, berdiri, duduk, dan berdiri. Menelusuri gerbong kereta api dan kembali lagi di sampingku!

Tangan jahil laki-laki seakan tak memperdulikannya untuk bergerak berimpit-impitan dengan lelaki. Tak peduli dia dioceh oleh orang lain karena perilakunya yang nyeleneh.

Ketika makan siang yang diberikan seorang bapak belum habis…seketika itu dia minta ke bapak atau ibu lain yang lewat di depan bangku kami. Minum, dia hanya minta. Persedia minum yang memang masih banyak di travel bag ku menjadi jatah tersendiri baginya. Rasa haus seakan tidak bisa hilang dari kerongkongannya dan dia minta lagi, kali ini dia milih, ‘Soft drink’ Fruit tea menjadi pilihannya padahal hanya satu itu.

Hatiku merasa kasihan dengan keadaannya. Tak kala ketika para lelaki mengejeknya,” Sudahlah, itu bukan bahan ejekkan untuk kalian. Mestinya kalian sadar dan mau menolongnya!” Kataku marah.

Bapak itu memberikan seberkas senyuman,” Sudahlah, jangan diladeni,” katanya.

Ketika kereta api sudah mulai sampai di stasiun Kertapati,” Mbak, aku ikut Mbak bae yo,” katanya. Dalam pikiranku sudah terbayang, dia tidak usah mengikutiku. Kalau aku bertemu dengan polisi, aku akan mengantarkannya dan aku akan minta untuk dimasukkan ke panti sosial.

“Mbak, kalo Mbak ke rumah aku, Mbakwong tuoku mungkin tak setuju,”

“Pokoknyo aku pengen nginep disano!” katanya

“”Aku nginep disano yo,” rengeknya. Di bagian ini jiwanya menjadi kekanak-kanakan.

“Mbak….aku nginep di tempat Mbaknya…” Aku mulai gerah dengan permintaannya itu. Aku ingin menolongnya, tapi aku merasa aku tidak mampu. Aku berlindung di kerumunan penumpang yang berseliweran banyaknya. Sosoknya hilang bersamaan dengan masuknya aku ke dalam bis kota. Di kejauhan, aku masih melihatnya yang terlihat mencari-cari diriku dan aku bergumam,” Maaf kan aku, Mbak…”

Beberapa bulan kemudian aku melihatnya kembali di persimpangan jalan. Persis! Wajah bulatnya dan tubuh gempalnya ! Kali ini bajunya tidak seperti yang aku lihat waktu bertemu dia di kereta, sedikit bersih. Dia menjadi anak jalanan!

Terinspirasi dari sosok Mbak dalam cerita, tahun 2005… Liburan ke Linggau.

Terima kasih dan maafkan aku….

“BUKAN ALLAH YANG MEMBUAT KESESATAN, TAPI MANUSIA ITU SENDIRILAH YANG MENGINGINKANNYA.”

 

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

4 Balasan ke Ketersiksaan Batin…

  1. totok subianto berkata:

    ass.mel yang antum sms tu bukan Hp ana tp no Hp Ust.
    ana jika ada maslh terkadang ke beliau,
    Afwan jika anti mengatakan hal-yang tidak2, Membuat hambah Allah menjadi ini Resah. yang ngak tau menjadi suatu beban pikiran baru untuk menjadi Hibroh…. Dalam hal ini,semoga silahturahim ini ngak menyurutkan Langkah -lahkah dalam berdakwah!Amin Yarobal Alamin

    Suka

  2. melianaaryuni berkata:

    http://Www... Aamiin ya Rabbal a’lamin

    Suka

  3. Suara Hati berkata:

    Komputer ku sudh panas ketika aku menemukan blog ini, aku baca ceritanya walaupun, tak kumngerti bahasanya, bahasa derah mana ini aku bertanya didlm hati sambil berfikiir keras.
    ku baca smpai akhir, terbaca olehku “comment”, ku klik dan muncul lebaran komentar, lalu kuketik, komentar.
    Siapa anda? tinggaal dimana? tolong di balas pertannyaan Suara Hati.

    Suka

  4. melianaaryuni berkata:

    Assalamu’alaikum…..
    Salam kenal….Saya orang Palembang. Tinggal dan di besarkan di kota Palembang. Bahasa yang digunakan pada narasi adalah bahasa Palembang. Sengaja dibuat seperti itu karena ceritanya berasal dari pengalaman yang juga di Palembang.

    Anda adalah orang yang pertama komen dan cari tahu bahasa Palembang. Selamat menjelajahi bahasa Palembang, boleh deh kalo mau kursus Bahasa Palembang….nanti saya kasih tahu artinya.
    Wassalamu’alaikum….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s