Sesat dalam Terang

Tak ada yang mau buta. Tak juga ada yang mau dikatakan orang buta. Buta….syarat dengan gelap dan yang pasti ketidakterangan. Seorang yang buta akan merasakan nikmatnya terang bila dia sudah menyelami makna gelap.

Gadis itu bukannya sembarang orang. Dia terbilang gadis yang pandai di antara teman se-angkatannya. Gadis itu pun bukanlah gadis yang jelek bahkan dia sangat cantik dibandingkan teman-temannya.

Sore itu, ketika siluet senja mulai terlihat di ufuk barat, gadis itu pulang dengan senyum ceria yang dimilikinya. Dengan langkah santai gadis itu mengayuhkan langkah kakinya di atas trotoar jalan Bagis. Tak terasa langkah itu sampai di perempatan Jalan Bagis. Disana gadis itu memilih jalan sebelah kanan, yaitu Jalan Bail. Dengan perlahan gadis itu melangkahkan kakinya dan ups…temaramnya lampu sen mobil dan motor membuat matanya silau dan…

“Braak…. gadis itu jatuh tepat di pinggir Jalan Bain. Disana diterkapar. Seorang diri. Dalam kesendiriannya gadis itu meraih dan mencoba menemukan seberkas cahaya. Yang dia dapat adalah gelap. Dalam gelap dan tanpa kesadaran yang penuh, dia mendengar suara,” Ah…sekarang akan kamu rasakan apa yang pernah kamu lakukan selama ini. Setiap orang akan mendapat apa yang telah mereka lakukan. Betapa hari-hari yang kau lalui itu hanya untuk menyenangkan badaniahmu,tapi bathiniah dan ruhiyahmu kosong melompong. Kau gadis yang sombong. Kau gadis yang hanya memikirkan kecantikan belaka tanpa tahu makna kecantikanmu.”

Suara itu terdengar nyaring di gendang telinga. Dia pun menangis. Gadis yang malang. Nasibnya hanya se-perempat abad, itu pun tanpa akhir yang menyenangkan.

Kematian terkadang sangat menakutkan. Ketika kematian datang, maka tak ada yang bisa menolaknya. Tak ada yang bisa menundanya barang sedikit pun. Begitu pun kita.

Tubuh yang dulu tegap dan kokoh perlahan menjadi tua dan rapuh. Mata yang dulu mampu melihat dari jarak yang jauh kini hanya bisa terang bila menggunakan kacamata. Gigi yang dulu tersusun rapi, kini perlahan copot dari tempatnya, tak dapat merasakan nikmatnya makanan.

Andaikan setiap orang mampu mengalami kematian lalu hidup kembali, mungkin sebagian orang akan menginginkan mati dan sebagian lain akan takut pada kematian itu.

Ketika garis kematian telah ditakdirkan, maka apa yang harus disiapkan?

Apakah kita akan berlaku seperti gadis di atas? Seperti Gadis yang mengalami akhir hidup yang sangat tidak kita inginkan ??? Ataukah menjadi orang yang dengan tersenyum menghadapi kematiannya???

Kini saatnya Kita memilih!

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s