Memasang 1000 wajah

Ada banyak cara yang bisa untuk ‘menjinakkan’ orang, apalagi anak. Anak,adalah pribadi yang unik, labil dan penuh liku dan terkadang sangat sulit untuk dipahami. Memahami seorang anak dengan seluruh jiwa ibarat menyelami luasnya samudra dunia. Memahami anak bukan perkara mudah apalagi jika terjadi timbal balik, anak memahami kita sebagai pendidik/orang tua dan sebaliknya. Tugas yang tidak mudah, bukan?

Bagi anak, orang tua/pendidik itu serba pandai,puinter, dan punya otak yang lebih besar dibandingkan mereka. Itu salah satu ungkapan anak ketika dia diminta untuk menyebutkan hasil dari 6×6.

Anak akan beranggapan orang tua/pendidik itu serba bisa dan kalau ada yang tidak bisa maka dengan polosnya anak akan berkata,” Bunda soal cak itu bae dak biso?” Apakah kita akan marah? Ataukah kita akan menjewer dan menjawab asal-asalan karena takut diejek anak?

Kebiasaan beberapa guru/orang tua seperti di atas mungkin masih ada pada tipe pendidik yang mudah marah. Pendidik/orang tua akan marah dan merasa tidak menerima pendapat anaknya dengan berkata,”Ah. sudahlah, kamu masih bau kencur juga!” Bahkan ada yang lebih parah lagi dan ini pernah terjadi, yaitu pendidik.orang tua akan memarahi anak tersebut dan menjawab asal-asalan dengan mempertahankan dirinya dalam benuk proyeksi, yang bisa dibilang kekanak-kanakan, misalnya “Kamu tahu nggak, ibu tuh sudah tua. Kamu yang masih muda aja nggak ingat, apalagi Ibu?”

Kejadian seperti di atas akan sangat berbekas di hati si anak. Dia akan mengingat kata-kata orang tua/pendidik tersebut bahkan yang lebih ekstrim lagi anak tersebut akan membenci orang tua/pendidik, bersikap tertutup, dan merasa self esteemnya rendah. Dia merasa bahwa dirinya memang melakukan kesalahan yang sangat fatal. Akibatnya, anak bisa jadi malas atau dia rajin tapi tidak mendapatkan apa-apa dari yang telah dia lakukan karena keterpaksaan.

“Terpaksa akan menjerumuskan pada kenistaan”.

Setidaknya menyadari keadaan anak adalah yang penting, yang harus dimiliki pendidik/orang tua. Dengan penuh kesadaran, anak akan merasa ‘being’ dan merasa dia ‘ada’ untuk lingkungannya.

Menyadari anak marah akan menambah rengutan wajah anak jika itu ditanggapi dengan rengutan yang sama dari pendidik/orang tua. Maka…yang terjadi, terjadilah.Akan akan terus menjauh dari kita. Yang terjadi bukan kedekatan hati, tapi kejauhan hati antara orang tua/pendidik dengan anak.

Memasang 1000 wajah adalah salah satu cara/trik untuk menghadapi anak. Dengan penempatan yang benar, hasil dari metode 1000 wajah akan terlihat. Menghadapi anak marah bukan dengan marah. Mereka akan cuek pada amarah yang kita sampaikan pada mereka.

Memasang 1000 wajah akan membuat anak paham dan tahu harus menyikapi orang tua/pendidik. Anak akan paham beberapa emosi dan perasaan yang akan dia temui bila dia berhadapan dengan dunia luar. Dengan memasang 1000 wajah yang tepat, maka anak akan menemui bahwa 1000 wajah yang Anda perlihatkan di hadapan anak akan Anda temui juga sewaktu-waktu pada wajah anak Anda.

1000 wajah……???

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel Psikologi, Uncategorized. Tandai permalink.

5 Balasan ke Memasang 1000 wajah

  1. totok subianto berkata:

    Ass,Mel……subhanallah antum benar apa yang ada di artikel 1000 wajah tesebut,emang terkadang orang tua ketika menghadapin pisikologi anak itu kelewatan batas dari menyikapi emosional orang tua Tdk terkontrol terhadap anak.tapi itulah terkadang anak Mjd pemalas dan sbgnya? memberontak.itu ternyata kenyataan/ Fakta yang ana lihat dilapangan!Sampai-sampai Ort Mengatakan Senonoh dng Anaknya.
    Nah……… jadi mel anti blm menjelskan Trik 1000 wajah terhadap anak?
    tolng itu haru dijelaskan. mungkin cara & tekniknya,biar pd mengetahui Orng tua cra mendidik anaknya menjadi saleh!
    Ana perna membaca buku fisikologi anak, Kalau anak salah panutan?…….
    Munkin ana ingin berbgi dengan anti atau juga masukan buat ana..untuk menyikapi anak yang seperti ini?…
    Coba mel anti beri penjelasan judul diats,& juga yg ana beri comtoh: terkadang banyak anak yang sulit menyikapi Cita2/keinginan yng didambakan remja muslim untuk sekrg ini..apalagi di eragloblisasi utk sa’at ini? Baik Kita lihat ditayangan TV yang lg hebohnya ttg bakt anak.Anti tau kaH………….(MAMAMIA) WadUH….Gawat deh yang mencontoh tirua Org2 yahudi. Masya’allah..ini hasil pengamatan ana sendiri
    Allah berfiman:
    …………………….Atum tau ngak surat Qur’an mnjelaskan ttg janganlah enkau meniru/ mengambil mereka sbg pemimpin.maka sesungguhnya org itu termasuk gol mereka.mkn ngak salah(Qs.Al-maidah ;51) Coba dicek Ya…Nah Mkn Itu aja Ana tunggu……jwbnya,wasalam Ya Uhti

    Suka

  2. totok subianto berkata:

    ass.IBU meli kok belum digubris mengenai pedapat ana dan usulan ?
    tolong DIKAJI YA…. ANA YAKIN IBU MELI BISA MEMBERIKAN SOLUSI DAN JAWABAN TERSEBUT? MEL TETAP PERTAHAN KAN hasil Tulisan Antum, yang bisa untuk MEMBANGUN oRG TUA memberikan contoh tauladan UNTUK ANAK YANG SALEH YANG MELI BUAT………
    MEL ana usul Nih…… ASAL BISA TULISAN ATUN INI DIBUAT MAJALAH BULETIN SEDERHANA AJA. SAYANG LOH…KALAU ORG TUA NGAK BISA MEMBACA ARTIKEL2 ANTI YANG BAGUS..INI! ANA YAKIN ANTI BISA kok..soalnya ibu-ibu mungkin ngak bisa buka internet?

    Suka

  3. melianaaryuni berkata:

    http://Www...
    Iya, bukan nggak digubris pertanyaannya, tapi kemarin internetnya sdh nggak connect…

    Soal MAMA MIA Meli belum pernah nonton, tapi persoalan remaja sekarang memang seperti itu adanya, Tok. Banyak remaja yang tak berakhlaq lantaran sering menonton tontonan TV. Tentu saja hal itu berdampak sangat hebat bagi pribadi anak.
    Peran ortulah yang layangnya dikedepankan karena 24 jam anak banyak bersama ortunya dibantu peran orang yang ada di sekitar anak, termasuk pendidik.

    Ketika anak menjadi pembangkang, maka orang tua baru akan bergiat untuk memperbaiki dirinya.

    Memasang 1000 wajah…Meli tampilkan….Ada banyak masalah yang tersirat dari tulisan Meli itu. Alhamdulillah dari tulisan itu ada komen yang bisa membangun peradaban manusia selanjutnya…

    Ketika kita berhadapan dengan anak, jangan sungkan-sungkan untuk berwajah marah, kesal, senang, lucu, atau apa saja yang sesuai dengan perasaan kita karena tidak semua anak paham pada emosi kita. Meli pernah mengalami kejadian, si anak sulit membedakan antara marah dan kesal. Mereka mengatakan marah pada perasaan kesal. Tentu saja kita (Meli) harus memberi tahu kalau Meli bukan marah tapi kesal. Andaikan tidak diberitahu, maka bisa jadi anak akan mengatakan,” Oh,jadi pendidik itu tugasnya hanya marahi siswanya saja ya.”

    Kita tak maukan jika esok harinya si anak tidak masuk sekolah lantaran dia mendapati pendidiknya seperti itu.
    JANGAN TAKUT MENGUNGKAPKAN MARAH, SEDIH, ATAU APAPUN PERASAAN KITA LEWAT EKSPRESI WAJAH!

    Jangan pula malu untuk bercerita tentang kelucuan atau sekedar menunjukkan wajah jelek kita ke anak.Semakin banyak kita memasang 1000 wajah, maka semakin banyak mereka paham dengan perasaan kita. Saat mereka sudah paham apa yang kita sampaikan melalui ekspresi wajah, maka semakin tahu mereka menyikapi perasaan kita itu dengan berperilaku yang sesuai.

    JANGAN PERNAH MENGIRA BAHWA KELAS YANG DIAM ITU DIKELOLA DENGAN GURU YANG ‘BAIK’!

    Kelas yang dikelola dengan guru yang hanya berekspresi merengut atau bermuka masam mungkin akan terlihat diam, tapi bukan hatinya. Keterpaksaan tidak membuat anak betah untuk berlama-lama di kelas. Hasil dari yang diajari hanya sebatas keterpaksaan.

    Terkadang…kita harus menyingkirkan gap/sekat antara pendidik dan siswa. Terkadang juga kita harus menanggalkan apa yang dinamakan ‘sungkan’. Terkadang juga kita harus menanggalkan ‘kebiasaan tradisional’ tugas dan selesai (apalagi untuk siswa kelas rendah).

    PERLAKUKANLAH ANAK SEBAGAIMANA YANG IA INGINKAN, BUKAN SEPERTI APA YANG KITA INGINKAN.

    Perlakuan dan wajah yang tepat akan membuahkan hasil yang gemilang jika terjalin kedekatan hati antara pendidik dan anak.

    Meli harap apa yang Meli sampaikan itu bermanfaat bagi semua dan Meli bisa melakukannya,
    “Sangat besar murkan Allah bagi mereka yang mengatakan sesuatu tetapi tidak mengerjakan sesuatu itu.”

    Soal buletin, oke juga tuh Tok usulannya, gimana mau jadi donatur??

    Jazakallah…

    Suka

  4. totok subianto berkata:

    insyaallah ibu meli…kalau totok uadah kerja.tapi ngak apa-apa jika mau bantu untuk masukin proposal, entar dibantuin?Oke…

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s