Kaku…Beku…

Udara panas mengitari saraf-saraf mataku membuat lelah yang sedari tadi mengampiriku segera leyap dan tergantikan oleh keinginan berkipas. Kuambil buku tipis yang ada di meja kerjaku. Kuayunkan beberapa ayun ke arah wajahku dan angin sedikit sejuk mulai menyapu keringat yang mulai mengalir di tubuhku.
Palembang memang tidak sedingin Bandung. Palembang pun bahkan lebih panas dari Jakarta, itu kata sebagian orang Palembang. Yang jelas, apa pun Palembang, dialah tempat tinggalku dan disinilah aku menhirup segarnya udara pagi dan pekatnya asap mobil walau sebenarnya yag terakhir itulah yang paling tidak kusukai bila beraktivitas di luar rumah.

Semuanya hampa. Kedua belah mata itu kulihat kosong. Tak ada sinar kebahagiaan di dalamnya. Dingin. Aku bergindik melihat sorot matanya. Tajam tapi tak bermakna. Selama itu dia terpaku dalam keadaan yang sama dan posisi tubuh yang sama sekali tak bergerak. Dia duduk disebuah kursi yang terlihat sudah cukup tua dengan kedua tangannya ditangkupkan di depan badannya dan matanya menatap ke lantai. Tepatnya sudah dua jam dia seperti itu! Kaku tanpa gerakan sama sekali. Kedipan matanya pun tak terlihat bahkan mungkin saja selama dua jam itu matanya tidak berkedip sama sekali.

Aku hanya bisa berkomentar, “Ada ya orang yang tahan seperti itu.”

Rasa penasaran mulai membuat tanganku gatal untuk membuka buku-buku yang sudah dua tahun ini kutinggalkan. Kubuka buku Ilmu Kedokteran Jiwa dan kutemukan disana ada sebuah kata, yaitu Katatonik. Keadaan seseorang yang kaku, yang membuatnya tidak atau enggan beraktivitas dengan lingkungannya seolah-olah lingkungan di sekitarnya tidak berperan sama sekali.

Lama sekali aku melihat keadaan pria itu, tapi tak jua kutemukan perubahan dari posisi tempat dia duduk. Rasa penasaran itulah yang membuatku terus berusaha untuk melihat lebih dalam lagi permasalahan yang terjadi pada pria itu.

Kucoba setiap hari mendatangi sal pria itu dan mencoba berkomunikasi satu arah dengan si pria. Tak kutemukan matanya bersinar. Tak juga kutemukan sorot mata yang berbeda ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Aku selalu membuka komunikasi kami dengan tilawah walaupun aku tak tahu apakah tilawah yang kulantunkan itu bisa menyentuh hatinya.

Kutemani pria itu dan kuteruskan menyelidiki dirinya. Pria itu bukan pria tua. Dia hanyalah seorang dewasa awal yang masih terlihat sangat muda bila wajahnya bisa tersenyum sedikit kepada dunia. Wajah 25 tahun itu tidak memberikan reaksi apa pun ketika aku bercerita tentang pengalamanku yang menyenangkan ketika aku berlibur bersama keluarga di Bogor. Reaksinya sama, kaku…beku…

Sudah hampir setengah tahun aku bersamanya. Aku mulai merasa nyaman dengan keberadaannya yang tak menganggu dibandingkan ‘orang-orang yang kelainan kejiwaan’ lainnya. Aku mulai bisa memahami siapa pria itu. Setengah tahun sudah pria itu tidak dijengguk oleh kerabat atau temannya. Dia selalu sepi, sendiri, dan menyendiri di atas kursi yang sudah cukup tua di salnya.

Tepat 7 bulan aku disana, salah satu dari  kerabat pria itu mendatangi salnya dan berkata,” Oalah, Nak, kenapa kau tidak berubah. Setengah tahun sudah aku tidak ngejengguk, kau masih seperti ini. Apa kesalahanmu,Nak….”, keluh kerabat pria itu. Tak ada reaksi sedikit pun dari ucapan kerabat pria itu untuk membangunkan tidurnya yang sendiri dalam senyum tanpa mimpi-mimpi.

Aku mendekati kerabat pria itu. Kami berbicara panjang lebar tentang pria itu. Sambil menangis dia bercerita keseharian pria itu sampai keadaannya bisa seperti saat ini. Dia menangis dan menangis tersedu-sedu. Dia tak tahu betapa inginnya aku menolong kerabatnya itu dengan sedikit pertolongan yang mungkin tak berarti bagi orang lai tapi kuharap mampu mengobati kesedihan di hatinya.

“Aku tahu bahwa Allah itu baik, maka mengapa Ia menjadikan keponakanku seperti ini. Apa ini bukti bahwa Allah itu baik! ” kata kerabat pria itu dengan sedikit emosi.

“Tak selamanya kejahatan itu berasal dari Allah. Terkadang karena ulah manusia itu sendiri akhirnya kejahatan atau sesuatu yang tidak disukai terjadi di dalam dirinya,” kataku dengan sedikit penjelasan.

“Ibu tahu mengapa seseorang bisa jatuh sakit ?”Tanyaku mencoba menerangkan tentang Maha Baiknya Allah.

“Allah memang yang menurunkan penyakit dan pasti juga dia bisa menyembuhkan penyakit itu. Hanya saja, penyakit yang sebenarnya itu berasal dari hati. Nah, sekarang saya mau nanya, apa yang dilakukan keponakan ibu sebelum dia menjadi seperti ini?”

“Dia itu kemarin patah hati dengan seorang gadis. Gadis itu sebenarnya kekasihnya yang sudah dipacarinya sejak 5 tahun yang lalu. Putusnya pun hanya masalah sepele, yaitu pegang kepalanya,” kata ibu itu.

“Pegang kepala saja koq marah,” selidikku ingin tahu.

“Iyalah, karena meskipun gadis itu pacarnya mereka tidak pernah berpegangan atau bersenggolan sama sekali. Menurut gadis itu haram hukumnya bila seorang laki-laki memegang atau menyentuh  tubuh seorang pria. Keponakanku itu tak sengaja kesenggol jilbabnya. Keesokan harinya tanpa pertemuan dengan keponakanku, gadis itu memutuskannya. Keponakanku menjadi stres, depresi, dan akhirnya seperti sekarang ini,” kata ibu tersebut menerangkan kejadian itu padaku.

Tak semua yang kita sukai dan menyenangkan di dunia ini harus kita lakukan. Terkadang kesenangan bisa mendatangkan kecelakaan…..(bersambung)

Iklan

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

9 Balasan ke Kaku…Beku…

  1. meita maniezz berkata:

    Yuk… kok ceritanya agak menggantung… trus “time” nya sempit…hanya dalam satu waktu… klo dalam film mungkin cuma 1 sin… penasaran yuk… itu ceritanya mo gmana…????
    AKU disitu juga menggantung…siapa?? gak ada narasi yg menjelaskn siapa AKU itu…awalnya mei malah mengira bahwa AKU adalah penghuni RS jiwa juga…gak jelas yuk…perawat?pegawai rsj?cleaning service ?atau petugas dapur atau….siapo???

    Klo menurut mei dibagian tengah ketika si AKU bertanya mengapa pria tsb mejadai skizophren….. biso dibuat cerita flash back… jadi nyeritain kmballi cerita si pria sampai bisa jd kaya’ gitu….pasti ceritanya bisa lebih panjang da lebih seru…???

    he..he.. kali ini komen mei agak panjang….
    semoga bermanfaat…

    Suka

  2. melianaaryuni berkata:

    Mei, mestinya nih cerita memang nyambung tapi rasa malesnya keburu dateng jadi….yang segitulah ceritanya….Mei tolong terusin ya…

    Suka

  3. mohamad setiawan berkata:

    kasian yah, sang lelaki dan si ukhti, yang begini ini sering terjadi lho, buat anak-anak muda yang ghirohnya tinggi tapi masih kurang bijak menghadapi realita yang ada di depan mata, ngga nyalahin, cuma kita perlu punya sense untuk akibat yang akan terjadi, itu tuh seperti yang dipunyai nabi khidir lho……, he..he…he…becanda kok.
    ceritanya cukup menyentuh, bisa jadi polemik para ikhwan dan akhwat,

    Suka

  4. melianaaryuni berkata:

    Sekarang memang sudah jadi polemik akhi…dan jangan sampai kita yang sudah paham menjadi tidak bijak dan tidak bisa menjaga apa yang telah Allah berikan kepada kita, terburu-buru melakukan dan baru sadar di penghujungnya. Sifat manusia sekali ya… Nabi Musa aja nggak sabar menunggu apa yang akan dilakukan Nabi Khidir a.s., tapi layaknya ketidaksabaran itulah bisa menjadikan kita jangan sampai menjadilakn diri dijauhi Allah.

    Selamat! Jika kita bisa menjadi orang yang sabar dalam cobaan dari Allah.

    Suka

  5. mohamad setiawan berkata:

    setuju, membaca surat al kahfi sepertinya sangat sulit ya, kalo tanpa kebijaksanaan…………

    Suka

  6. mohamad setiawan berkata:

    setuju ! tapi membaca surat al kahfi terutama cerita nabi khidir tampaknya sangat sulit ya kalo tanpa kebijaksanaan, ane jadi inget tentang cerita hasan al banna waktu menyikapi artikel sayyid qutb yang menganjurkan tentang ketelanjangan, waktu itu teman dari hasan al banna secara tergesa -gesa ingin mengcounter tulisan tersebut, tapi beliau hasan al banna melarang karena tidak ingin artikel tersebut justru mendapat sambutan yang luas, dan memang menjadi kenyataan pada akhirnya sayyid qutb justru menjadi pembela Islam terkemuka…..,dan membersihakan sendiri apa-apa yang beliau tulis sebelumnya, apa jadinya seandainya sang sayyid ditantang secara terang-terangan? mungkin sang ego akan bertindak lain….., bagaimana pendapat ukhti? ternyata kebijaksanaan dan sense of future perlu mendapat tempat yang baik dalam pengambilan keputusan. iya gak sih….?

    Suka

  7. mohamad setiawan berkata:

    bukan maksud hati ingin melegitimasi perbuatan terlarang dengan ayat ayat quran, tapi kita perlu tahu konteksnya, itu aja…., apabila kita percaya dengan premis ” setiap takdir itu baik bagi kita kaum muslimin ataupun mu’minin” entah kita menerimanya dengan sabar, ikhlas atau justru dengan tingkat tertinggi yaitu ridho/senang hati…! bagaimana dengan perbuatan maksiat? apakah kita harus sabar, ikhlas terlebih senang hati….? mengenai hal ini, ibnu taymiyyah ditanya bagaimana dengan perbuatan maksiat, apakah itu baik bagi kita? jawabnya ya, asal harus disertai dengan istighfar, penyesalan dan taubat insya Allah ujungnya akan baik bagi kita, masalahnya kita harus ngerti siapa diri kita, menurut saya itu aja, jangan justru sampai tersesat, tanyalah kepada yang lebih mengetahui, maklum banyak sekali yang mengatasnamakan surat nabi khidir untuk melegitimasi tindakannya yang terlarang, naudzubillahi min dzalik…

    Suka

  8. mohamad setiawan berkata:

    bukan maksud hati ingin melegitimasi perbuatan terlarang dengan ayat ayat quran, tapi kita perlu tahu konteksnya, itu aja…., apabila kita percaya dengan premis ” setiap takdir itu baik bagi kita kaum muslimin ataupun mu’minin” entah kita menerimanya dengan sabar, ikhlas atau justru dengan tingkat tertinggi yaitu ridho/senang hati…! bagaimana dengan perbuatan maksiat? apakah kita harus sabar, ikhlas terlebih senang hati….? mengenai hal ini, ibnu taymiyyah ditanya bagaimana dengan perbuatan maksiat, apakah itu baik bagi kita? jawabnya ya, asal harus disertai dengan istighfar, penyesalan dan taubat insya Allah ujungnya akan baik bagi kita, masalahnya kita harus ngerti siapa diri kita, menurut saya itu aja, jangan justru sampai tersesat, tanyalah kepada yang lebih mengetahui, maklum banyak sekali yang mengatasnamakan surat kahfi tentang nabi khidir untuk melegitimasi tindakannya yang terlarang, naudzubillahi min dzalik…

    Suka

  9. melianaaryuni berkata:

    Apa jadinya seandainya sang sayyid ditantang secara terang-terangan? Ketika seseorang ditantang , mungkin saja egonya akan bertindak dan berusaha agar dirinya tidak terjerumus dalam tuduhan tersebut. Namun, beda halnya dengan seseorang yang sudah memahami hakikat dirinya, Tuhan-nya, dan menyakini bahwa….diam, adalah selemah-lemah iman…lebih memilih diam bukan karena takut ? Saat ego akan bertindak maka super egonya akan muncul dan mencoba mengcounter egonya sehingga yang timbul adalah nilai-nilai positif. Ternyata kebijaksanaan dan sense of future perlu mendapat tempat yang baik dalam pengambilan keputusan. iya gak sih….? Kebijaksanaan adalah sesuatu yang sangat jarang dimiliki manusia yang tidak mau berusaha untuk mendapatkannya. Kebijaksanaan membuat orang lain bertindak tanpa melukai orang lain. Kebijaksaan akan ada jika orang telah sampai pada pemahaman dirinya secara mendalam dan mau memahami orang lain. Bertindak bijak sangat sulit, tapi harus diasah.

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s