Seorang Pria

Matahari terik sekali hari ini, tepat di depan wajahku! Asap-asap kendaraan menyerbu wajahku! Hidungku mulai gatal. Ingin rasa kucuci wajahku dengan air yang sangat dingin lalu ku minum dengan rasa sejuk yang kurasakan di tenggorokanku.

Di sudut Jalan Jendral Sudirman, seorang pria, dengan memakai pakaian alah kadarnya menyeringai ke arahku. Tanpa ba bi bu, pria tersebut mendekati,”Buk…buk…” terdengar suara lemparan mengenaiku persis di tubuhku. Lunglai tubuh terkena lemparan itu.Pria itu diam lalu berlari tanpa peduli apa yang terjadi pada diriku. Sorot matanya yang tajam seolah-olah aku adalah orang yang salah. Rasa takut mulai menjalari palung hatiku perlahan membuatku bergindik dan berujar, “Wah, aku takut!” Ujarku dalam hati

Perjalanan kulanjutkan kembali, motor yang biasanya kugunakan untuk kerja dan aktivitas lainnya hari ini bablas, ya dipakai oleh adikku. Entah samapai hari ini saja nasibku berjalan kaki ataukah beberapa hari lagi harus kujalani seperti ini? Entahlah, yang jelas aku tak ingin bertemu dengan pria yang melempar air minum ke tubuhku!

Tepat di persimpangan Polda, aku berjalan dan tak kusangka pria itu sudah ada di hadapanku. Matanya menatapku tajam, tanpa kedipan sekali. Aku tertunduk lesu dicampur rasa taku yang mulai menghantuiku. Aku tak mau kejadian pagi tadi terulang kembali padaku!

Aku terus berjalan, mencoba menghindari pria itu, tapi…

“Hei, kamu, kamu tahu siapa aku?”Logat Medannya terdengar kental oleh telingaku yang sudah mulai gemetar.

” Aku!” Kuberanikan diri untuk mencoba mencari tahu apa yang diinginkan oleh pria itu.

“Iya, kamu, memang siapa lagi, ayo sini!” Nadanya mulai meninggi karena aku cukup lama bagi pria itu untuk mendapat jawaban dariku.

“Kenapa kamu melihat-lihat aku seperti itu, bukankah aku tidak menyakitimu?”Tanya pria itu padaku.

“Tidak, aku tidak menyakitimu, tapi engkaulah yang menyakitiku. Kamu tahu, waktu kamu melempar bekas air minum ke tubuhku, apa yang kurasakan. Sakit!Kamu mau mencoba apa yang kurasakan?” Spontan kulempar secangkir air aqua tepat di dadanya.

“Sakit, kan?” Si pria terperanjat. Dia melonggok dan tak beberapa lama kemudia dia mulai menyeringai kembali.

“Aku tak sudi diperlakukan seperti ini! Kamulah yang telah menyakitiku! Aku tak mau kau sakiti lagi! Cukup waktu itu! Kau telah menyakiti anakku! Kau ingat gara-gara kau anakku jadi meninggal. Sekarang kau kembalikan anakku dan kau mau menyakitiku! Apa belum cukup nyawa anakku untukmu!” Ceracau pria itu. Aku bingung. Untunglah emosiku sudah mulai menyurut. Kudekati pria itu.

“Mas, aku ini bukan yang Mas bicarakan !Aku tidak mengenal, Mas. Mas pun nggak tahu kan denganku?”Tanyaku mencari tahu siapa pria itu.

“Aku sangat mengenalmu. Aku tahu rumahmu. Aku tahu semua kejahatan yang kau lakukan. Aku tahu semua yang kau lakukan kepada anakku. Kau kan yang membunuh anakku?”

“Kau yang telah membuat istriku menangis! Adik-adiknya sedih melihat kepergian kakaknya yang kau bacok tanpa rasa bersalah. Setelah kau bacok,  kau menangis. Kini aku bertemu denganmu. Aku harus membalas dendam! Darah harus di bayar dengan darah. Nyawa harus dibayar dengan nyawa!”Sambungnya kembali.

” Belumlah sempat dia melukai denga celurit yang ada di pinggangnya, aku buru-buru memegang tangan pria itu. Tak lama kemudian kerumunan masyarakat berkumpul di dekatku. Hantaman godam mentah menhujami wajah dan tubuh pria itu tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya. Dengan sekuat tenaga pria itu mencoba untuk membela diri. Tapi tubuh lemahnya mulai lemah dan akhirnya jatuh di atas trotoar Jalan Jendral Sudirman. Nyaris saja! Kalau saja aku tidak menghindar dari tempat itu, aku pun bisa menjadi korban keberingasan kerumunan itu.

Bunyi ambulance mulai terdengar dan polisi cepat-cepat menutup tempat kejadian itu. Aku diminta jadi saksi kejadian tadi dan….

“Pak, orang ini adalah penghuni RSJ tipe paranoia. Dia yang telah lama kami cari selama ini!…”

Hanya kalimat itu yang terdengar dan yang lain senyap…

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Narasi Psikologi. Tandai permalink.

7 Balasan ke Seorang Pria

  1. meita berkata:

    cerpen singkat yang kerenn… bahsanya bagus.. klo orang awam pasti agak terkejut dengen ending yang ternyata si bapak adalah pengidap gangguan jiwa….

    yukk.. caknyo klo kemampuan ayuk buat cerpen psikologis diasah lagi,,, mei yakin ayuk biso membuat buku untuk menyaingi “SIBIL”,,,,he..he..he..

    ciayoo yunda cayang…..

    Suka

  2. melianaaryuni berkata:

    He…he…Mei chayang….rasanya aneh lho kalo ayuk bisa jadi penulis seperti penulis ‘SIBIL’, bisa nggak ya? Aamiin deh, moga aja kejadian ya mimpinya Mei, mohon doanya….

    Suka

  3. totok subianto berkata:

    Mei……..ana tekejut liat cerpen antum seperti fakta ttp lucuh..dgn gaya bhsa yg khas waduh…………..mukin ana sulit ya untuk mecobah mempelajari/ meniru gaya bHASA ANTI……….Weleh-weleh orak iso dapetin Inspirasi seperti ini..habisnya ora orep!!!!Hmmmmmm piye Iki Entar tak Golek’i Inspirasinyo Ke Jogya (gunung Kidul) Nyowon dengan Mbah Marjan untuk minum kuku bima roso-roso babals angine……….He…He…

    Suka

  4. melianaaryuni berkata:

    Apo dio nian bahasonyo akhi tuh, dak tau maksudne….apo ayo….tuh cerita benar dan ada fiktifnya. Coba deh cari bagian mana yang faktanya…dan itu betul-betul terjadi pada Meli….

    Suka

  5. totok subianto berkata:

    AHa……..Itu benar-benar terjadi ya pada meli..Masak Nih……………yo wes jika orak ngerti?….meli bukan orang jawa ya.ana kirain anti orang jawa sepenglihatan ana!..mirip orang jawa

    Suka

  6. bagus mel…sudah bisa dideskripsikan situasinya oleh pembacanya.Kamu terus latihan lagi..ok

    Suka

  7. melianaaryuni berkata:

    Jazakallah khoir….sedikit kebahagian diri adalah ketika orang paham apa yang kita sampaikan berikut menerima hikmah dari pemahaman itu. Pak pejabat…terus ngasih kritik&masukkannya ya….

    Suka

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s