Jombang (3)

“Bunda, aku kesel bener dengan Jombang, dia terlalu ngelawan kalau dibilangin,” kata si ustad sesaat setelah beliau masuk ke ruang komputer. Aku yang mendengarnya menjadi bingung pada apa yang beliau bicarakan.

” Ustad, maksudnya apa? Saya rasa…..” kalimatku menggantung tanpa tambahan sedikit pun. Wajah Ustad yang biasanya cerah dan penuh senyuman, kini lesu dan merasa tak berdaya.

Begitulah menjadi Ustad. Ustad yang berusaha untuk sabar dan menjaga diri agar tidak marah akhirnya marah dalam bentuk yang tak terduga !

“Jombang, lain kali kalau nggak mau belajar, nggak usah sekolah saja!” Kata si Ustad kesal kelas. Jombang sukan bermain di kelas lengkap dengan kelakuan Jombang yang ‘serba wah’. Ya, Jombang….bukannya Jombang bukannya belajar, dia malah bermain di kelas, keliling kelas, bermain engrang, dan melakukan semua aktivitas yang dia sukai. Berlari-lari di dalam kelas baginya bukan sesuatu yang aneh baginya.

Suatu hari, hari Rabu, ketika pelajaran Agama Islam, Jombang melakukan kesalahan yang serupa. Kesalahan yang dia lakukan bukan hanya satu kali ini pada si Ustad. Entahlah apakah hal serupa dia lakukan terhadap bunda atau ustadnya yang lain. Yang jelas dimataku Jombang, its uniks child. Aku suka padanya, dengan semuanya. Kekerasannya di mataku masih bisa ditangani. Dia masih menurut bahkan sekarang sikapnya jauh lebih baik. Perilaku baiknya sudah mulai konsisten.

Kasus di atas bukan hal yang aneh, bukan juga suatu momok yang sangat mengesalkan. Tak semua orang paham pada apa yang telah terjadi di diri Jombang. Perlakuan yang keras yang dia dapat di rumah berbekas sekali di hatinya. Orang tua yang selalu memaksa dan terkadang atau mungkin sering sekali memarahinya memberikan dampak dia suka bermanja-manja dengan bunda-bundanya di sekolah.

Kupanggil dia seorang diri. Kutanyai dia mengapa Ustad marah kepadanya. Kutanyai pula apakah yang dilakukannya salah.

“Jombang, Ustad itu baik lho sama Jombang, tapi mengapa Jombang marah sama Ustad?”

“Bunda nggak mau deket-deket lagi sama Jombang kalau Jombang tidak berubah, kataku. setelah itu aku mengatakan kepada patner kerjaku untuk tidak lagi menasehati atau menguruinya lagi karena anak seperti Jombang tidak harus berulang-ulang dinasehati.

Biarlah kekesalan menjadi sesuatu yang berarti, bukan menjadi kesal dalam arti harfiahnya. Doaku semoga Jombang terus berubah untuk menjadi baik dalam kesholehan seorang anak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu’alam wishowwab.

Iklan

Tentang ummuilma

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Pos ini dipublikasikan di Pernik Sekolah. Tandai permalink.

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s