Siang tadi, setelah sholat Zuhur, aku kembali ke kelas dengan tergesa-gesa karena ada laporan dari anak bahwa seorang anak yang bernama Amel menangis karena mengeluh pusing dan kakinya sakit. Sebelumnya dia mengeluhkan hal yang sama, tapi hanya sebentar dan Amel masih bisa ikut sholat berjama’ah. Setiba di kelas, aku melihat Amel telah berurai air mata. Sedih melihatnya bercampur rasa cemas.
Ketika aku tanya,” Amel pusing ya,Nak ?” Dia hanya menjawabnya dengan anggukan. Akhirnya aku coba mengkondisikan kelas sebelum patner kerjaku tiba. Aku meminta 4 orang anak (Ketua (Shiddiq), Angga (Sekretaris), Daffa (Waka), dan Anton (Pencatat) untuk tampil di depan kelas. Mereka akan membantuku dan teman-temannya dalam tahfidz kali ini karena aku akan mengajak Amel ke UKS.
Dari kejauhan, mereka berempat telah mengambil alih peran yang aku berikan. Kelas sudah terlihat tertib. Pengulangan tahfidz surat berlanjut, entah sudah berapa ayat yang mereka suarakan.
“Nak, Bunda kali ini ingin mengajarkan kali bertanggung jawab dengan apa yang diberikan pada kalian. Kalian akan merasakan bagaimana berdiri menjadi seorang ustadz atau bunda. Bunda percaya kalian bisa. Bunda akan memberikan waktu 30 menit untuk tahfidz sendiri, insya Allah 30 menit yang lain Bunda yang handle,” kataku. Aku hanya bilang ke patnerku,
“Ustadz, biarkan mereka tampil di depan. Ustadz lihat saja mereka. Tiga puluh menit berikutnya saya akan isi,” kataku sambil berlalu.















