Besok, genap sudah seminggu aku menerapkan aturan menuliskan perilaku buruk anak di depan kelas. Jadi seperti ini.
Kertas dengan nama masing-masing anak di tempelkan di dinding depan kelas lalu anak diminta untuk mengisikan perbuatan buruk yang dia lakukan di kelas saat itu juga (yang jelas dilakukan tidak dalam keadaan belajar. Jika perbuatannya dilakukan waktu belajar, anak menuliskannya waktu istirahat). Di hari Senin, pekan kemarin, beberapa anak telah hampir memenuhi kertas denga perbuatan buruk, namun sehari kemudian berkurang.
“Alhamdulillah, hari ini sudah nggak banyak yang menuliskan perbuatan buruk di depan kelas,” kataku sambil tersenyum. Aku menyebutkan nama beberapa anak yang sudah sering menuliskan perbuatan buruk mereka. Dengan pujian seperti itu, mereka tersenyum. Aku mengharap ada perubahan sedikit demi sedikit dari anak.
Patnerku tidak mau menyerah dengan keadaan, beliau melancarkan strategi juga. Beliau membuat sebuah kertas yang isinya tentang menulis istghfar lalu setelah selesai, anak diminta untuk membawa pulang kertas itu. Besok kertas itu dibawa kembali ke sekolah lengkap dengan tanda tangan orang tuanya.
Aturan-aturan yang lama masih berlaku, namun aturan baru harus dikeluarkan karena ada perbedaan antara anak tahun ini dengan anak tahun kemarin pada tingkatan yang sama. Pada tahun ini, anak sudah cepat perkembangannya.
Biasanya waktu satu jam pelajaran BBQ, aku dan patnerku menggunakannya untuk menasihati mereka. Aku ajak mereka mendengarkan cerita lalu aku buka diskusi, yang akhirnya mereka bilang.
“Bunda, Senin nanti seperti ini aja ya.” Aku selingi, kalau memang perlu tausiyah, kami akan tausiyah.
“Ya Pembolak-balik hati, berilah kebaikan di dalam hati-hati anak didikku dan para pendidik dimana pun berapa. Jadikah kami sanggup menjalani profesi ini tanpa beban.Aamiin.”