Bertetangga Itu Sulit

Hidup bertetangga itu tidak mudah ternyata karena banyak karakter tetangga yang akan kita temui. Ada tetangga yang peduli, ada juga yang cuek bebek, bahkan ada juga tetangga yang tak beretika. Waduh, setelah menjalani rumah tangga sendiri, aku baru menyadari bahwa menjadi tetangga yang baik itu tidak mudah, betul-betul butuh pengalaman.

Terus bagaimana cara menghadapi tetangga yang peduli? Semua tetangga memiliki haknya, yaitu hak bertetangga dan sesama muslim. Apa saja sih hak bertetangga itu? Salah satunya adalah tidak membuat keberadaan kita tidak aman atau tidak nyaman baginya. Apakah kita bisa tahu dengan apa yang dirasakan oleh tetangga kita? Caranya gampang. Lihatlah tingkah laku mereka ketika sedangĀ  berinteraksi. Misalnya ketika musim kemarau, air sumur kita tidak ada, sedangkan tetangga kita memiliki sumur dan airnya banyak. Kita boleh saja meminta air kepada tetangga kita, tetapi bukan untuk menghabisinya. Untuk tetangga yang peduli, dia akan mengambil secukupnya. Berbeda dengan tetangga yang ‘Yang penting aku ada, habis juga nggak pa-pa. Dia bisa beli kok.” Nah, memiliki tetangga seperti ini pun sulit dihadapi. Kalau tidak diberikan, itu ada haknya. Kalau diberikan, kita tidak ada air. Saat itulah kita akan belajar keikhlasan. Air itu milik Allah dan kita tidak bisa mengatakan air itu milik kita karena Allah-lah yang mengirimkan hujan dan memasukkan air ke sumur kita. Namun, apa yang harus kita lakukan dengan orang seperti ini?

Tanyakan alasan mengapa dia berbuat seperti itu? Kalau alasannya masuk akal, misalnya tidak ada air di rumahnya, itu bisa dimaklumi. Jika alasannya hanya keruh airnya, berikan solusi untuk mengatasi kesulitannya. Misalnya, airnya dijernihkan dulu dengan kaporit atau dengan saringan konvensional. Hal ini tidak mudah dilakukan. Menjelaskan dengan tetangga bahwa perilaku mereka mengancam kita haruslah hati-hati karena jika tersinggung, kitalah yang akan mendapatkan akibatnya. Suamiku berkata bahwa selagi bisa memberikan bantuan kepada orang yang membutuhkan, maka Allah akan mencukupkan kebutuhan kita dan akan memberikan balasan perbuatan kita dari arah yang tak disangka-sangka.

Ah, bukankah ikhlas itu rentan dengan ketidakikhlasan, yang akhirnya membuat amal kita tidak berarti apa-apa di sisi Allah? Kataku, ikhlas seperti itu bersinggungan dengan dosa jika tidak kuat untuk menjalaninya.

Semoga kita bisa menjadi tetangga yang tahu kewajiban dan hak dalam kehidupan fana ini.

About these ads

Tentang melianaaryuni

Muslimah sederhana yang mencoba menciptakan makna hidup dari lika-liku kehidupan melalui tulisan...
Tulisan ini dipublikasikan di Artikel Psikologi. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bertetangga Itu Sulit

  1. menarik postingannya…:)

Terima kasih atas masukannya, semoga tulisan disini bermanfaat ya :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s